Gara-gara Upwelling, Ratusan Ton Ikan di Jangari Mati

0
351

CIANJUR, patas.id – Sebanyak 300 ton ikan di kolam apung Waduk Jangari mati akibat upwelling. Fenomena itu terjadi lantaran cuaca ekstrem disertai turunnya hujan selama tiga hari terakhir.

‎Kematian ikan yang terjadi di Blok Maleber, Ciputri, dan Jatinengang itu membuat peternak ikan merugi, bahkan totalnya ditaksir mencapai Rp 6 miliar.

Aep Saepudin (42 tahun), Seorang peternak ikan di Blok Jatinenggang, mengatakan, hujan yang terjadi belakangan ini memang memberikan dampak besar. Aliran air yang deras dan angin membuat kotoran yang berada di dasar Jangari naik dan membawa racun pada ikan, hingga berujung kematian massal.

Menurutnya, saat ini kematian ikan terus bertambah dan diperkirakan kerugian akan terus bertambah. “Kejadian ratusan ton ikan mati sudah terjadi dalam tiga hari terakhir, sejak turun hujan,” ujar Aep saat dihubungi melalui telepon selular, Kamis (28 September 2017).

Dia mengatakan upwelling kali ini tak hanya menerjang ikan mas, melainkan ikan nila dan bawal yang biasanya cukup tahan dengan fenomena rutin setiap tahun ini. Menurutnya petani ikan yang kolamnya diterjang upwelling masih didata kemungkinan mencapai 100 orang petani.

“Itu baru dari tiga blok, belum yang lain. Paling parah itu di Maleber, sebab dekat muara,” tuturnya.

Namun dia juga mengaku heran peristiwa upwelling datang di bulan September. Biasanya, kata Aep, upwelling akan menerjang kawasan Cirata pada bulan November atau Desember. “Sekarang malah bulan ke sembilan sudah terjadi. Makanya petani tidak ada persiapan, sebab di luar prediksi,” kata dia.

‎Menurutnya, sebagian petani berusaha menekan jumlah ikan yang mati dengan melakukan sistem blower, dimana sirkulasi air dinormalkan lagi. Salah satunya dengan menggunakan mesin perahu.

Namun, sebagian petani memilih untuk panen dini. Hal itu membuat harga ikan menjadi jatuh. Akibatnya, kerugian terus bertambah, di samping karena ikan yang mati.

“Biasanya jual itu Rp 15 ribu per kilogram, sekarang Rp 6.000 per kilogram. Memang jadi anjlok, tapi daripada rugi lebih banyak lagi. Totalnya saja sekarang sudah Rp 6 miliar dari seluruh petani yang terkena dampak,” kata dia.

‎Dia juga mengungkapkan ikan yang bisa dipanen dini yang masih segar, sementara yang sudah mati langsung dibuang. Sayangnya hingga saat ini belum ada solusi membuang bangkai ikan mati. Selama ini, petani membuat ikan mati ke luar kolam.

“Jadi dibuang ke luar kolam, belum ada tempat khusus. Memang jadinya berdampak juga ke pencemaran air, tapi mau bagaimana lagi. Sampai sekarang pemerintah juga belum beri perhatian, mau itu untuk modal ikan mati ataupun solusi membuat tempat khusus membuang ikan yang mati,” ucapnya‎.

‎Agustus lalu, fenomena serupa juga terjadi. para petani di keramba jaring apung (KJA) Jangari di perairan Cirata, Kecamatan Mande  mati mendadak tanpa sebab. Akibatnya, ratusan petambak di Jangari merugi hingga miliaran rupiah.

“Sebagian besar ikan tidak ada yang bisa dipanen,” ucap Taryana (40 tahun), salah seorang peternak ikan di jaring terapung Jangari

Taryana menduga, kematian massal ratusan ton ikan diduga akibat perubahan cuaca. Akibatnya, ikan mengalami kekurangan oksigen lantaran terjadi arus balik dari dasar air atau upwelling.

“Perubahan cuaca membuat air waduk bercampur dengan air hujan hingga oksigen untuk ikan berkurang,” tuturnya.

Akibat kondisi tersebut, kata Taryana, para petani ikan yang berada di wilayah Blok Patok Besi, Blok Maleber dan Blok Sangkali di wilayah Kecamatan Cikalongkulon, dan Blok Nenggang dan Blok Ciputri, tidak bisa menjual ikannya karena jauh di bawah standar.

Sementara itu, Dinas Kelautan Perikanan dan Peternakan Kabupaten Cianjur mengimbau para petani ikan mewaspadai bakteri Aeromonas Hydrophila yang biasa menyerang ikan air tawar di Kabupaten Cianjur saat peralihan musim.

Kepala Seksi Bina Kesehatan Ikan dan Hewan Dinas Kelautan Perikanan dan peternakan  Kabupaten Cianjur, Agung Riyanto, mengatakan, penyebaran penyakit pada ikan di Kabupaten Cianjur didominasi bakteri Aeromonas Hydophila, White Spot Virus, dan Koi Herves Virus.

Menurutnya, penyakit-penyakit tersebut biasanya timbul karena perubahan iklim dan kondisi air yang sudah tercemar limbah. “Untuk mengatasi penyebarannya bisa dengan memberikan vitamin C serbuk yang dicampur pakan ikan agar kondisi ikan sehat kembali,” kata Agung kepada wartawan, belum lama ini.

Agung menuturkan, untuk mengantisipasi berbagai jenis penyakit yang biasa menyerang komoditas ikan air tawar itu, pada umumnya para petani pembudi daya ikan sudah bisa terbiasa. Sehingga, ketika terjadi musim pancaroba, para petani ikan akan mengganti dengan jenis ikan yang lebih tanah terhadap penyakit dan sanggup bertahan pada oksigen rendah. “Misalnya saja ikan nila atau lele jumbo,” ujar Agung.

Agung menyebutkan, produksi ikan air tawar di Kabupaten Cianjur untuk ikan mas sebanyak 25.236,65 ton, ikan nila sebanyak 10.550,21 ton, ikan bawal sebanyak 13.404,77 ton, serta ikan lainnya sebanyak 292,23 ton. (isl)

Comments

comments