Pengusaha Jangan Abaikan Dampak Lingkungan

0
186

CIANJUR, patas.id – Pengusaha atau investor yang akan terlibat dalam rencana pembangunan zona industri di Cianjur dinilai Cianjur perlu mengubah pandangan bisnisnya. Hal itu bertujuan, agar investor yang notabene menggunakan lahan untuk industri tidak mengabaikan pentingnya aspek dan dampak lingkungan.

Pengamat Lingkungan Cianjur, Yusep Somantri mengatakan, pola pikir pengusaha masih terjebak pada economy oriented. Akibat hal itu, pada akhirnya dampak lingkungan pun seringkali tidak terantisipasi.

”Padahal, pengusaha bisa membangun industri tanpa mengabaikan satupun aspek lingkungan. Apalagi, sejak awal pembangunan mereka pasti terikat dengan dokumen lingkungan. Dokumen itu seharusnya bisa menjadi acuan mereka saat operasional,” kata Yusef di Cianjur, Rabu (27 September 2017).

Dia mengatakan, pengusaha yang akan membuka industri di Cianjur seharusnya memahami dengan benar seperti apa dampak lingkungan yang akan dihasilkan. Hal itu dikarenakan, Cianjur saat ini masih memiliki kondisi alam yang cukup baik.

Menurut dia, saat ini dampak lingkungan yang terasa tidak hanya berhenti pada alih fungsi lahan. Peralihan sebuah kawasan pertanian menjadi industri, harus dilihat dari berbagai aspek secara menyeluruh.

”Ketika satu titik lokasi terpusat menjadi zona industri, makan potensi pencemaran pun akan semakin tinggi. Setelah alih fungsi lahan, harus dilihat kelanjutannya, seperti kekeringan yang disebabkan oleh penggunaan air bawah tanah,” ujarnya.

Yusep menilai, pada akhirnya kondisi tersebut tak hanya menggambarkan bagaimana industri dapat mensubordinatkan alam/lingkungan, tapi juga sekaligus mengeksploitasi lingkungan. Oleh karena itu, pengawasan ketat harus dilakukan pemerintah menyusul tingkat kesadaran pengusaha yang dikhawatirkan tidak konsisten.

Dia mengharapkan, ada tindakan berkelanjutan yang terus memonitor pengusaha dalam praktik industrinya. Pemerintah tidak boleh bosan mempertanyakan kesesuaian operasional industri dengan ketentuan lingkungan yang berlaku.

”Akan ada dampak lingkungan yang berlapis atas keberadaan industri. Makanya, harus dikontrol terus instalasi limbah, penggunaan air oleh pabrik, dan lainnya. Pengelola industri harus terus bertanggung jawab,” ucap Yusef.

Di samping itu, dirinya meminta agar pengelola industri tidak lepas tangan dan merasa sudah bertanggungjawab dengan memberikan dana CSR kepada masyarakat. Soalnya, tanggung jawab yang benar adalah dengan memastikan industri mereka aman untuk masyarakat dan lingkungan.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Cianjur, Yoni Raleda mengungkapkan, potensi pencemaran saat zona industri berdiri memang akan lebih besar. Apalagi, ratusan industri manufaktur dapat menyebabkan pencemaran air, tanah, dan udara.

”Makanya, ke depannya kami juga mengupayakan adanya alat untuk mengukur sejauh mana kadar pencemaran yang terjadi. Jika sudah ada tools di perairan, kami dalam waktu dekat ingin menyediakan alat untuk melihat kadar udara di Cianjur,” ujar Yoni.

Yoni saat ini tengah mengupayakan tersedianya Air Quality Monitoring System (AQMS) untuk melihat kondisi udara. Menurut dia, keberadaan AQMS akan memperlihatkan kondisi udara kepada masyarakat terkait secara terbuka.

”Jadi, investor juga bisa lebih transparan kepada masyarakat. Apakah industri mereka menyebabkan pencemaran udara atau tidak. Karena, kondisi udara juga menjadi hal yang penting,” katanya. (isl)

Comments

comments