Seratus Ton Ikan Mati di Jangari dalam Seminggu Terakhir

0
506

CIANJUR, patas.id -‎ Kurang lebih seratus ton ikan di kolam jaring terapung di Jangari mati, dalam waktu sepekan terakhir. Akibatnya para petani dan pengusaha di kawasan Jangari mengalami kerugian.

Denden Supriadi (46 tahun), mengatakan bahwa matinya ikan di Jangari selama sepekan terakhir diakibatkan adanya perubahan musim dari kemarau ke hujan. Hal itu membuat pakan dan limbah domestik yang terpendam di dasar waduk terangkat.

“Otomatis ikan jadi mabuk, kalau beberapa hari terus begitu jadinya banyak yang mati,” ujaranya saat ditemui, Selasa (15 Agustus 2017).

Menurutnya, kebanyakan kolam yang terkena dampak ialah di pinggiran waduk apalagi yang di Muara Sungai, sebab racun selain dari dasar waduk juga dibawa oleh arus sungai. “Kalau di tengah hanya oksigen yang kurang, tapi yang mati tidak banyak. Paling parah itu yang di pinggiran,” ucapnya.

‎Menurutnya, kebersihan kawasan Jangari juga sangat berpengaruh, salah satunya dari eceng gondok yang juga erdampak pada ketersediaan oksigen di kolah.

“Kalau terlalu dekat dengan kumpulan eceng gondok, oksigennya kurang. Makanya harus ada arahan juga kepada para petani agar tata kolamnya tidak dekat dengan eceng gondok, sebab beresiko.”

Denden mengungkapkan, selama sepekan terakhir ini, jumlah ikan di kolamnya yang mati mencapai 20 ton. “Tentu kalau dihitung dengan nilai sekarang, bisa puluhan hingga ratusan juta keuntungan yang hilang per petani ikan. Kalau secara keseluruhan angkanya tentu sangat besar,” ucapnya

Di sisi lain, Geri Prima (30 tahun) salah satu penjual pakan ikan yang ada di Jangari Cianjur mengakui, banyaknya ikan yang mati di beberapa kolam milik para petani ikan yang ada di Jangari, menyebabkan turunnya omset penjualan pakan ikan.

“Sangat mempengaruhi omset yang di dapat, penurunan pun sangat drastis, menurun hingga 800 ton dari bulan lalu.”

Geri menjelaskan, harga pakan ikan dijual dengan Rp 7.000 per kilogram. Jika dihitung, rata-rata penjual pakan bisa meneluarkan 1.000 ton per bulan. Namun, dalam sebulan terakhir ini dirinya hanya menjual 200 ton. Kerugian mencapai ratusan juta rupiah.

“Turunnya sampai 800 ton. Mudah-mudahan situasi seperti ini tidak berlangsung lama, dengan begitu penjualan dan omset yang didapat pun kembali stabil seperti biasanya,” harapnya.

Sementara itu, ‎Kepala Seksi Perikanan Budidaya Dinas Kelautan Peternakan dan Perikanan Kabupaten Cianjur, Erna Nurdiana, mengatakan bahwa kematian ikan di Jangari memang terjadi setiap tahun, ada yang diakibatkan penyakit dan upwelling.

“Memang informasi sudah masuk ada peristiwa kematian ikan, tapi laporan penyebab pastinya belum ada.”

‎Menurutnya, upwelling berdampak besar pada jaring apung. “Ini karena sisa pakan yang terbawa arus, biasanya Desember dan Januari. Tapi mungkin di bulan lain juga,” katanya.

‎Menurutnya, produksi ikan di Cirata atau Jangari mencapai 100 sampai 150 ton per hari, dengan akumulasi keuntungan mencapai Rp 5 miliar per hari. Meskipun kontribusi langsung tidak diterima Pemkab, namun kehidupan ekonomi meningkat. “Warga di sana naik ekonominya. Di sana kan 40 persen ikan mas, 30 persen ikan nila, 30 persen jenis ikan lainnya.”

Menurutnya, karena sudah setiap tahun, beberapa petani bisa mengantisipasi kematian ikan akibat perubahan iklim. “Mungkin ke depan sosialisasi bakal diintensifkan,” katanya. (isl)

Comments

comments