Pedagang Tanaman Hias Butuh Organisasi

0
772

CIANJUR, patas.id – Para pedagang tanaman hias mengaku membutuhkan organisasi khusus yang menaungi mereka. Pasalnya, ketiadaan organisasi untuk mengatur banyaknya pedagang yang tersebar di Cipanas, menyebabkan terjadinya ketimpangan harga jual.

Aidatul Fatonnah (40 tahun) salah seorang pedagang tanaman hias menuturkan, persaingan bisnis tanaman hias yang begitu ketat seiring bertumbuhnya jumlah pedagang, tidak diimbangi dengan adanya penataan harga.

”Banyak terjadi perbedaan harga jual di setiap pedagang, dan kami akui kalau persaingan menjadi tidak sehat. Padahal, kalau ada organisasi yang mengurus pedagang, harga bisa menjadi sama rata.”

Menurutnya, perbedaan harga yang terjadi di lapangan sering tidak masuk akal. Tidak sedikit pedagang yang sengaja mematok harga rendah agar tanaman hiasnya laku di pasaran, terutama pedagang skala kecil/menengah. Padahal, mayoritas pedagang mengambil tanaman dari sumber yang sama.

“Walaupun sudah biasa, pedagang dengan skala yang lebih besar tentu tidak begitu saja bisa menyesuaikan pola yang sama saat berdagang,” paparnya.

Menurut Ai, jika semua pedagang sama-sama menekan harga, keuntungan pedagang skala kecil akan menurun, terlebih bagi pedagang yang mempekerjakan pegawai lebih dari empat orang.

”Kalau ikut jual dengan harga murah, keuntungan akan lebih sedikit. Memang, barang bisa lebih cepat terjual, tapi di sisi pendapatan tidak akan mengimbangi kebutuhan lain, terutama untuk upah pegawai.”

Oleh karena itu, Ai pun semakin mengharapkan hadirnya organisasi untuk menaungi dan mengkoordinir pedagang tanaman hias di Cipanas. Pasalnya, selain dinilai bermanfaat untuk menetralkan harga tanaman, organisasi juga diharapkan dapat membantu pedagang dalam hal pasokan tanaman hingga ke permodalan.

Tidak jarang, pedagang kehabisan persediaan tanaman dan belum mendapat pasokan lagi karena petani pemasok belum panen kembali. Apalagi, saat ini cuaca tidak menentu sehingga proses tanam dan panen tanaman hias terganggu.

”Pedagang bisa dibantu mendapatkan supplier lain untuk memenuhi kebutuhan lain. Jadi, organisasi juga menampung pemasok untuk kemudian ditawarkan hasil tanamannya pada kami pedagang.”

Dia mengharapkan ada perhatian terutama dari dinas terkait untuk membantu membentuk organisasi tanaman hias. Soalnya, pedagang membutuhkan jaminan kestabilan berbagai aspek dari bisnis yang dapat menjual hingga ribuan tanaman per minggunya.

Sementara itu Kepala Dinas Pertanian dan Hortikultura Kabupaten Cianjur, Mamad Nano, mengatakan bahwa pada dasarnya bisnis tanaman hias merupakan peluang pasar yang bersifat bebas (pasar bebas). Hal itu berarti, segala kegiatan terutama perdagangan dengan sendirinya diserahkan kepada potensi pasar masing-masing.

”Pihak Dinas tidak bisa mengintervensi apapun, karena kami hanya melakukan pembinaan secara teknis. Apalagi, sistem jual beli tanaman sudah sepenuhnya didasari pada pasar.”

Namun, Dinas tetap memantau jalannya perkembangan bisnis tanaman hias yang merupakan salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) itu. Sedikit menjawab kebutuhan pedagang akan organisasi, Mamad menyatakan bahwa Dinas telah membentuk asosiasi tanaman hias.

Tetapi, lanjut dia, Dinas membutuhkan sedikit waktu untuk melakukan penataan pada lembaga tersebut. Mamad mengungkapkan, kondisi asosiasi yang lebih matang diupayakan dapat membantu pengelolaan tanaman hias dengan lebih optimal. Dinas pun akan berkoordinasi dengan Dinas Koperasi UMKM Perdagangan dan Perindustrian untuk memaksimalkan aspek jual beli.

”Pengawasan, bimbingan, dan bantuan akan terus dilakukan untuk mengawal bisnis tanaman hias ini. Apalagi, potensinya pun masih sangat tinggi dan punya dampak besar untuk PAD sekaligus petani serta pengusahanya,” ujar dia. (isl)

Comments

comments