Jelang Ramadan, Harga Kebutuhan Dapur Merangkak Naik

0
209

CIANJUR, patas.id – Harga sayur, bumbu dapur, dan daging sapi diperkirakan naik menjelang Ramadan dan Idul Fitri. Minimnya stok dan adanya permainan harga di tingkat distributor dinilai jadi faktor tidak stabilnya harga.

Nyai Rajiun (40), salah seorang pedagang sayuran dan bumbu di Pasar Induk Pasirhayam (PIP), mengatakan, sebulan menjelang Ramadan, harga sayuran mulai mengalami kenaikan.

Beberapa sayur dan bumbu dapur yang naik, menurut dia, di antaranya bawang putih yang semula Rp 37 ribu menjadi Rp 42 ribu per kilogram, cabai tanjung dari semula Rp 25 ribu naik jadi Rp 30 ribu per kilogram, kentang Rp 10 ribu menjadi Rp 16 ribu per kilogram, lada biji yang awalnya RP 80 ribu menjadi Rp 100 ribu per kilogram.

“Sekarang sudah banyak yang naik, beberapa hari sebelum munggah (sehari sebelum Ramadan) ada yang naik, apalagi kalau mau Lebaran, pasti banyak yang naik, ada yang dua kali lipat dari harga biasa,” ujar dia saat ditemui di lapaknya, Senin (24 April 2017).

Menurutnya, saat munggah dan menjelang Idul Fitri, kenaikan harga bisa lebih tinggi, misalnya cabai merah di atas Rp 60 ribu per kilogram, kentang pun bisa lebih dari Rp 25 ribu per kilogram.

“Itu harga tahun lalu, kalau tahun ini mungkin bisa lebih tinggi. Soalnya tidak bisa diprediksi, tergantung dari distributornya berapa, kalau naik ya kami juga naikan, menyesuaikan harga. Cabai juga kan awal tahun bisa sampai di atas RP 120 ribu per kilogram,” katanya.

Senada, H Ece (50) pedagang daging sapi memprediksi harga daging sapi menjelang munggah dan Lebaran bisa di atas Rp 140 ribu per kilogram. Sementara untuk harga normalnya, daging sapi hanya Rp 100 ribu sampai Rp 110 ribu per kilogram.

Kenaikan itu, menurut dia, terjadi akibat kacaunya penyediaan stok daging lokal dan impor. Permainan para distributor dan bandar nakal juga diperkirakan bakal merusak kestabilan harga daging sapi di momen hari raya tersebut.

“Sekarang harga daging impor turun, tapi stoknya tidak ada. Jadinya ngandalin daging lokal. Mungkin ini permainan distributor dan bandar nakal supaya nanti menjelang Ramadan dan Idul Fitri bisa dinaikan harganya,” kata dia.

Meskipun harga naik, lanjut dia, para pedagang merugi, sebab jumlah pembelian menjadi minim. Oleh karena itu dia lebih memilih harga normal namun banyak yang beli.

“Mending harga murah banyak yang beli daripada mahal tapi sedikit yang beli. makanya saya minta pemerintah di pusat upayakan berantas mafia dan bandar nakal, supaya harga bisa normal,” tegasnya.

Euis (50) salah seorang warga dari Desa Sukamanah Kecamatan Karangtengah, mengaku khawatir terjadi lonjakan harga saat munggah dan Lebaran. Dia berharap ada pengendalian harga supaya saat hari besar bagi umat Islam itu tidak membebani warga.

“Kalau untuk orang mampu mungkin tidak jadi amsalah, tapi kalau yang ekonominya pas-pasan ya jadi beban. Penghasilan tidak besar tapi harga jadi naik. Harapannya bisa ditekan harga supaya naiknya tidak terlalu tinggi,” pungkasnya.(isl)

Comments

comments