Merica Bubuk Cap Gunung Berjuang Tembus Pasar Cianjur

0
534

CIANJUR, patas.id – Berawal dari rasa prihatin akan nasib para petani lada Pagelaran yang seringkali harus menjual hasil panennya dengan harga murah pada tengkulak, Elis Lisnawati (38 tahun) kemudian mencoba mencari solusi kreatif dengan memproduksi lada bubuk rumahan “Cap Gunung”.

Para petani lada di daerah Pasir Pari, Pagelaran, biasanya menjual satu pohon lada mereka dengan harga Rp 50-100 ribu per pohon pada tengkulak. Ini sangat jauh di bawah harga pasar lada Indonesia yang mencapai Rp 120 ribu per kilogram untuk lada putih. Di awal tahun 2013, Elis kemudian menjajagi produksi merica bubuk di rumahnya dengan cara membeli lada kering para petani dengan harga yang layak, kemudian mengolahnya menjadi merica bubuk.

Proses pembuatan merica bubuk sendiri sangat sederhana, tutur Elis. Buah lada yang telah kering dijemur haus terlebih dahulu untuk menghilangkan unsur air. Agar tahan lama, setelah dijemur lada tersebut kemudian disangray atau dioven, lalu digiling halus.

Pada awal masa produksinya, Elis mengaku menjual merica bubuk “Cap Gunung” dalam kemasan plastik bening seharga Rp. 1.000. Pemasaran hanya difokuskan di wilayah Pagelaran dengan menitipkan produknya ke warung-warung dan toko terdekat. Namun pada Februari 2017, Elis melakukan inovasi dengan membuat kemasan sachet yang lebih modern agar bisa bersaing di pasar luas. Selain merica sachet, Elis juga membuat kemasan botol berisi 36 gram merica.

Elis mengaku kualitas merica bubuk “Cap Gunung” tak kalah oleh produk yang sudah lebih dulu populer. Untuk meraih pangsa pasar lebih luas, terkadang ibu 3 anak ini memberikan sample gratis terlebih dahulu pada kenalan-kenalannya.

“Biasanya mereka kemudian membeli, karena katanya merica saya lebih pedas dibanding yang lain. Ya, karena merica saya asli, tak dicampur dengan bahan tambahan apapun.”

Sebagai home industry lokal, bisnis merica bubuk Elis telah berhasil mengangkat kualitas hidup sekitar 20 orang petani di wilayah Pasir Pari yang kini menjadi suplier tetap lada kering untuk Elis. Selain itu, dalam proses produksi merica bubuknya, Elis mempekerjakan 5-8 ibu rumah tangga di wilayahnya. “Saya ingin menghilangkan pengangguran dengan menciptakan lapangan kerja, ikut ngebantu sedikit-sedikit lah, biar ibu-ibu bisa ngasih jajan anak-anaknya,” tuturnya rendah hati.

Elis menuturkan bahwa saat ini, merica bubuk “Cap Gunung” telah cukup dikenal di Pagelaran, Cibeber, Cidaun, dan sekitarnya. Selain di kecamatan-kecamatan tersebut, Elis juga memiliki langganan tetap di daerah Tagog, Padalarang, yang biasa membeli merica bubuknya dalam bentuk kiloan untuk dijual kembali pada pedagang dan pembuat bakso.

Setelah merica bubuk “Cap Gunung” berhasil mengangkat taraf hidup petani dan menciptakan lapangan pekerjaan bagi warga Pasir Pari, Elis berharap produknya akan mendapat tempat di hati masyarakat Cianjur. “Pengennya mah tembus se-Cianjur, tapi saya kekurangan tim pemasaran dan kesulitan bersaing dengan merica produk perusahaan besar yang lebih dulu ada di pasaran. Moga-moga ke depan mah bisa,” pungkas Elis dengan nada optimis. Semoga. (cho)

Comments

comments