Pasar Sindanglaka Dibongkar, Pedagang Kebingungan

0
262

CIANJUR, patas.id – Kepala Satpol PP dan Damkar Kabupaten Cianjur, Arief Purnawan, mengatakan, ‎pihaknya sudah melakukan penyegelan dan poster yang menyatakan jika bangunan tersebut dalam pengawasan oleh Satpol PP. “Penyegelan awal sudah dilakukan. Itu dikeluarkan sebagai peringatan karena melanggar Perda Nomor 14/2012 tentang IMB dan Perda Nomor 15/2012 tentang HO,” kata dia.

Menurut Arief, penertiban dan pembongkaran akan dilakukan dalam waktu dekat. Pasalnya, secara aturan sudah melanggar lantaran tidak memiliki izin. Tetapi pihaknya akan menempuh aturan yang berlaku. “Tentunya akan sesuai prosedur, mulai dari peringatan 1 sampai peringatan tiga. Jangka waktunya 15 hari ke depan. Kan pedagang perlu persiapan untuk pindah, daripada nanti dipindah atau dibongkar oleh petugas,” tuturnya.

Sementara itu, Maman (62 tahun) salah seorang pedagang di Pasar Sindanglaka, menuturkan, dirinya baru empat hari berjualan bahan makanan di pasar tersebut. Sebelumnya dia sempat berjualan di Pasar Salaeurih. “Ya, kan ada pasar baru, saya langsung ikut saja soalnya di Pasar Salaeurih diusir, di Sukamanah juga kebagian tempat di belakang. Jadi penghasilan tidak normal,” kata dia.

Maman menuturkan, adanya poster dalam pengawasan membuat dia khawatir akan kembali digusur dari tempatnya sekarang.

“Kan percaya tempat di sini karena lokasinya bagus, pihak pengelola juga menjanjikan perizinan selesai dalam waktu dekat. Tapi kalau sudah seperti ini sedikit khawatir.”

Menurutnya, untuk sewa kios di kawasan hook atau belokan jalan dalam pasar, biaya yang dikeluarkan sebesar Rp 4,8 juta per tahun dengan ukuran kios sekitar ‎3×3 meter. “Kalau di tempat lainnya hanya Rp 3,8 juta per tahun.”  Selama empat hari, lanjut Maman, dirinya hanya mendapatkan penghasilan Rp 100 ribu per hari. Itupun baru penghsilan kotor. Normalnya dalam sehari mesti mendapatkan uang sebesar Rp 800 ribu dengan keuntungan bersih hanya Rp 50 ribu.

“Jadi kalau dapat Rp 100 ribu, paling untungnnya kurang dari Rp 20 ribu. Tidak cukup makan, apalagi kalau nanti digusur lagi, tidak tahu cari uang ke mana.”

Maman mengakui, dirinya memiliki kios di PIP, namun lokasinya yang ada di blok D membuat jualannya tidak banyak.‎ “Kalau di sana sehari pernah dapat hanya Rp 5 ribu. Makanya cari tempat lain. Kalau mau pedagang kembali ke sana, buat ramai dulu supaya penghasilan normal,” tuturnya. (isl)

Comments

comments