Bitcoin Melejit di Penghujung 2016

0
260
160215_TFEA_PHT03
160215_TFEA_PHT03

PATAS.ID – Nilai tukar bitcoin, mata uang virtual yang beredar di dunia, melejit di penghujung 2016. Jika di awal tahun 2016 ini 1 bitcoin (disimbolkan dengan ฿) setara dengan US$ 435 atau sekitar 5,8 juta rupiah, maka di penghujung tahun, nilai ฿1 atau 1 bitcoin setara dengan kurang lebih US$ 900 atau sekitar 12 juta rupiah.

Pakar keuangan dunia menilai kenaikan nilai bitcoin mempengaruhi turunnya nilai mata uang China, yuan. Dilansir Reuters, sepanjang 2016, China mengalami penurunan nilai yuan hingga 7%. Hal ini diakibatkan oleh banyaknya transaksi perdagangan yang tak lagi menggunakan yuan sebagai alat transaksi. Transaksi online justru semakin banyak menggunakan bitcoin.

Untuk informasi, bitcoin sebagai mata uang diciptakan pertama kali oleh seorang programer bernama akun Satoshi Nakamoto yang hingga sekarang tidak diketahui identitas sebenarnya.  Bitcoin pertama kali diperkenalkan pada 31 Oktober 2008 dan dirilis sebagai software open source pada 2009. Tak seperti mata uang konvensional yang berupa pecahan koin atau kertas, bitcoin menggunakan sistem peer to peer (P2P) sehingga setiap pemilik rekening bisa bertransaksi langsung tanpa perantara, tanpa melalui sistem perbankan resmi.

Transaksi antar pemilik bitcoin diverifikasi oleh jaringan dan direkam oleh sebuah “buku kas” virtual yang disebut blockchain sehingga tak memerlukan sistem perbankan resmi dan biaya administrasi. Itulah sebabnya Badan Keuangan Amerika menyebut bitcoin sebagai cryptocurrency atau mata uang virtual/digital. Saat ini, bitcoin dianggap sebagai mata uang virtual yang paling banyak dipakai di pasar dunia.

Charles Hayter, salah seorang pakar keuangan virtual, mengatakan bahwa situasi politik dunia yang tak menentu serta berkibarnya uang tunai India juga menjadi faktor dipilihnya bitcoin sebagai alat transaksi virtual. Jika trend ini terus meningkat, Hayter memperkirakan bitcoin akan menjadi “tabungan masa depan yang aman”, jauh lebih aman ketimbang menabung euro atau dollar. Hal ini diperkuat oleh semakin maraknya transaksi online di seluruh dunia.

Hacker atau peretas, tentu saja, meramaikan eksistensi bitcoin dengan melakukan perampokan virtual. Pada bulan Agustus 2016 lalu, website mata uang digital Bitfinex yang berpusat di Hongkong melaporkan adalanya “perampokan virtual” bitcoin setara $65 juta atau setara 872 milyar rupiah. Hal ini sempat menyebabkan terjadinya penurunan nilai bitcoin sebesar 10%. Sebelumnya, nilai ฿1 adalah sekitar $1000 atau sekitar 13,4 juta rupiah.

Namun Hayter menyatakan bahwa pemilik bitcoin tak usah khawatir. Nilai bitcoin perlahan merangkak kembali, dan perampokan virtual tersebut bukan hal yang pertama kali terjadi. Bank-bank konvensional jauh lebih rentan dirampok. Sebelumnya pada Februari 2015, terjadi perampokan virtual yang dilakukan sekelompok hacker Rusia. Total sebesar $650 juta “dicomot” dari berbagai bank konvensional di seluruh dunia. Pada bulan Maret 2016, perampokan virtual berencana terbesar terjadi saat sekelompok hackers meminta Bank Federal New York dan Bank Bangladesh untuk mengirimkan uang sebesar $1 miliar kepada sebuah lembaga bernama “Shalika Foundation” yang bermarkas di Sri Lanka dan Filipina.

Saat uang tengah ditransfer, Bank Federal mencurigai typo atau kesalahan penulisan pada dokumen “Shalika Foundation”. Pada dokumen tersebut, kata “foundation/lembaga” ditulis “fandation”. Transfer yang tengah berjalan pun langsung dihentikan. Sayangnya, sebesar $81 juta keburu ditransfer. Belakangan diketahui bahwa “Shalika Foundation” adalah lembaga fiktif.

Penyidikan yang dilakukan hanya berhasil mengungkap bahwa kelompok hacker yang berlindung di belakang nama “Shalika Foundation” mungkin berhubungan dengan perampokan lain yang terjadi di tahun sebelumnya. Berdasarkan laporan, setidaknya $300 juta raib dari berbagai 100 bank konvensional utama di seluruh dunia. Untuk meretas, para hacker menggunakan virus yang diselundupkan ke dalam sistem komputer perbankan untuk memonitor aktivitas transaksi setiap bank melalui video, sebulan sebelum perampokan terjadi.

kembali ke bitcoin, pakar keuangan Hayter juga meyakinkan bahwa meskipun bitcoin belum berlaku secara global, namun semakin banyak transaksi dunia yang memakai mata uang virtual ini, terutama perusahaan-perusahaan yang berbasis teknologi seperti media sosial Reddit dan WordPress. Outlet-outlet perusahaan global seperti Subway, Kmart, Envato, Zynga, BigFish, AliExpress, Soundcloud, Bloomberg, Home Depot, kampus MIT, serta Sears pun telah dengan senang hati menerima bitcoin sebagai alat pembayaran. Dan, seperti hanya mata uang konvensional lain, bitcoin pun bisa dikonversikan menjadi rupiah dan ditarik melalui bank-bank lokal. (cho)

Comments

comments