Kuota Penyimpanan Gabah Minim, Tengkulak Untung

0
318

PATAS.ID, Cianjur – Sistem Resi Gudang (SRG) di Kabupaten Cianjur dinilai terbaik dari 117 SRG yang ada di Indonesia. Namun SRG ini dianggap kurang untuk menampung gabah kering, sehingga perlu ditambah. Tidak hanya itu, minimnya kuota penyimpanan membuat petani tetap menjual gabahnya ke tengkulak dengan harga yang minim, serta meminjam kepada rentenir atau bank pengkreditan.

Predikat SRG terbaik itu pernah disampaikan oleh Bank Indonesia Perwakilan Jawa Barat ketika berkunjung ke Cianjur sekaligus melihat proses serta potengelolaan SRG di Cianjur, Maret lalu.

Sistem SRG di Cianjur yang jika bisa terapkan sama baik di daerah lain, diyakini akan sangat membantu Bank Indonesia dalam mengendalikan harga beras, sebab salah satu sumber inflasi utama adalah naik turunya harga beras. Melalui sistem yang digerakkan di SRG Cianjur bisa mengurangi inflasi yang ada dan membantu menstabilkan harga. Bahkan kini di Jawa Barat deflasi 0,17 persen.

Kepala Bidang Perdagangan Dinas perindustrian Perdagangan (Disperindag) kabupaten Cianjur sekaligus Penanggungjawab SRG, Judi Adi Nugroho, mengatakan, keberadaan SRG dirasa sangat membantu petani khususnya yang berada di tiga kecamatan, yaitu Warungkondang, Cibeber, dan Gekbrong.

Ditemui di kantor Disperindag, Kamis (22 September), Judi mengungkapkan bahwa saat ini sudah ada enam Gapoktan dan 45 kelompok tani yang rutin menyimpan di SRG. Namun, tak sedikit dari petani perorangan yang ikut bergabung. “Minimal menyimpan untuk kelompok adalah 10 ton, sementara untuk perorangan kami masih menerima minimal 3 ton.”

Meski begitu, Judi mengakui daya tampung SRG belum memadai, sehingga banyak gabah yang terpaksa ditolak saat petani ingin menyimpan. Bahkan dalam setahun secara akumulatif SRG hanya bisa menampung hingga 2.000 sampai 2.500 ton gabah, terdiri dari beras biasa dan beras pandanwangi.

“RSG saat ini tidak cukup menampung, kami masih kekurangan. Hampir tiap panen raya ada 700 ton tidak bisa kami tampung dari hasil 3 kecamatan, yaitu Warungkondang, Cibeber, Gekbrong. Sebab kapasitas gudang hanya 1.200 ton. Makanya kami akan segera bangun yang di Haurwangi.”

Dia mengatakan, SRG di Haurwangi yang ditargetkan selesai akhir tahun ini bisa mencampung 1.500 gabah kering dalam sekali panen raya. “Memang daya tampung tetap kurang jika dibandingkan produktivitas beras di Cianjur yang mencapai ratusan ribu ton per tahun. Tapi kami optimalkan yang ada, rencananya pun di setiap kecamatan akan dibuat,” kata dia.

Keberadaan SRG, lanjut Judi, juga diharapkan dapat menekan penurunan harga dan keberadaan tengkulak ataupun rentenir bagi para petani. Pasalnya jika tidak dibuatkan maka petani akan menjual padi dengan ahrga rendah, sehingga tak cukup nuntuk penanaman di musim selanjutnya. “Jika itu terjadi maka mereka akan pinjam ke rentenir untuk modal tanam, dibayarnya setelah panen tapi dengan bunga yang tinggi.

beras-cianjur-2BJB Cabang Cianjur sebagai bank yang dipercaya sebagai penyedia pinjaman kepada petani telah menggelontorkan dana pinjaman sebesar Rp 7 miliar pada 2015, dengan Limit ajuan untuk per skema adalah Rp 75 juta, sedangkan bunga yang ditetapkan sebesar 6 persen. Dengan monitoring dan kontrol yang baik serta kualitas kredit yang terbaik, BJB menargetkan pada tahun 2016, skema resi gudang bisa meningkat hingga 130 persen.

H. Yahya (50 tahun) salah seorang petani di Desa Bunikasih Kecamatan Warungkondang, menyatakan, minimnya kuota di gudang SRG memang membuat petani tetap menjual gabah atau padinya ke tengkulak dengan harga yang murah. Tidak sebandingnnya pendapatan dan modal bertani memaksa petani untuk meminjam ke bank atau rentenir.

“Biasanya ke bank, bunganya ada yang sampai 20 persen. Jelas ini memberatkan petani tapi mau bagaimana lagi. saya saja sering ditolak untuk nyimpan di SRG sebab sudah penuh. Makanya petani kadang kurang sejahtera karena modal dan pendapatan tak sesuai, belum lagi dipotong bunga pinjaman ke rentenir.”

H. Yahya menginginkan Pemkab dan pihak terkait segera menambah SRG sesuai kebutuhan para petani, jika tidak, akan banyak petani yang terjerat hutang hingga harus menjual lahannya dan terpaksa menganggur atau menjadi seorang buruh tani. “Ya, kami hanya berharap ada penambahan, jadi petani bisa menyimpan di SRG kalau harga gabah turun, dijual saat normal. jadinya modal dan pendapatan tak selisih terlalu jauh,” tandasnya. (isl)

Comments

comments