70 Persen Pasar Rakyat Cianjur Terbengkalai

0
222

PATAS.ID, Cianjur – Pengelolaaan pasar rakyat di Kabupaten Cianjur belum maksimal. Dari 15 pasar rakyat yang ada, hampir 70 persen belum dimanfaatkan dan terbengkalai. Padahal idealnya setiap kecamatan memiliki satu pasar rakyat.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Cianjur, Himam Haris. Menurutnya, hingga saat ini pengelolaan pasar rakyat di tiap kecamatan diakui belum maksimal. Bahkan, idealnya di satu kecamatan terdapat satu pasar rakyat sesuai imbauan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan saat meresmikan Pasar Rakyat Warungkondang pada 2015 lalu.

Dari 15 pasar rakyat yang tersebar di wilayah utara, tengah, dan selatan Cianjur, hanya pasar rakyat yang terdapat di wilayah utara yang pengelolaannya cukup maksimal. Sementara lainnya, terutama di wilayah selatan belum dimanfaatkan dengan baik. Disperindag, ujar Himam, telah mengimbau agar pasar yang ada beroperasi 4 kali dalam sepekan. Namun nyatanya, hanya dibuka seminggu sekali. Kondisi tersebut semakin mengkhawatirkan karena tidak didukung oleh aparatur bahkan masyarakat setempat.

“Contohnya dua pasar di selatan, Pasar Cidaun dan Sindangbarang. Hanya seminggu sekali dibuka, imbauan sudah kami lakukan. Tetapi jika tidak didukung aparatur setempat jadinya begitu.”

Menurut Himam, jika kondisi tersebut terus dibiarkan akan berakibat tidak berfungsinya pasar rakyat. Lama-kelamaan, lanjutnya, masyarakat semakin sulit untuk digiring menghidupkan kembali pasar, seperti yang terjadi di Pasar Rakyat Warungkondang. Pasar rakyat percontohan di Jawa Barat itu juga belum beroperasi secara optimal.

“Untuk setiap pasar sudah kami siapkan 150 los dan 12 kios. Padahal jika dioperasikan dengan benar, pasar yang tersedia bisa menampung hasil bumi, misalnya sayur, ikan, atau sumber daya alam lainnya.”

Himam menuturkan, jika pasar rakyat berkembang, tak menutup kemungkinan dapat memfasilitasi produk-produk lokal olahan masyarakat. Selain itu, bisa dijadikan sumber informasi untuk pembangunan ekonomi, sebab pemerintah bisa mengetahui fluktuasi harga yang terjadi. Lebih lanjut, dijadikan tempat penampungan hasil alam, ke depannya bisa berkembang menjadi pasar komoditi serta sebagai antisipasi masuknya toko-toko modern.

“Tidak termanfaatkan secara optimal. Kuncinya ada di pihak desa dan kecamatan,” katanya.

Tidak tersedianya sarana transportasi massal juga jadi kendala. Jarak tempuh yang jauh, ditambah terbatasnya moda transportasi yang ada jadi penyebab lainnya.

“Paling yang ada ojek, itu juga terbatas dan mahal. Habis di ongkos, mungkin. Jika ada transportasi, pasar bisa berkembang. Intinya harus ada angkutan antar desa yang beroprasi agar pasar bisa hidup.”

Saat ini, ujarnya, Pemkab Cianjur sedang fokus membangun pasar rakyat di setiap kecamatan. Rencananya, prioritas pembangunan pasar akan dilakukan juga di 7 kecamatan lain, yakni Kecamatan Campaka, Tanggeung, Cijati, Kadupandak, Naringgul, Cikadu, dan Agrabinta.

“Bakal dibangun 7 pasar rakyat lagi. Pembangunan pasar akan menyasar seluruh wilayah selatan,” pungkasnya. (isl)

Comments

comments