Pengunjung Taman Wisata Kosong, Puluhan Monyet Turun ke Rest Area Puncak

0
67

CIANJUR, patas.id – Sejak DKI Jakarta dinyatakan zona merah Covid-19, perbatasan Cianjur-Bogor mulai dijaga ketat. Apalagi saat Kabupaten Bogor yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Cianjur mulai memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), penyekatan dilakukan semakin ketat. Untungnya, kebijakan PSBB Bogor membuat volume arus lalu lintas yang melintasi perbatasan pun mulai berkurang.

Jika pelintas batas berkurang, sebaliknya kawasan rest area Segar Alam di Puncak Pass yang biasanya ramai pengunjung justru ramai oleh puluhan monyet. Gerombolan wanara yang biasanya berkeliaran di gunung dan hutan sekitar Taman Wisata Alam Jember (TWAJ), kini turun ke jalan karena kelaparan.

Menurut Bu Eti (57 tahun), pemilik warung yang lokasinya tepat di sebelah pintu gerbang TWAJ, hari-hari biasa pun sebetulnya suka ada monyet yang datang. Namun, saat ini makin banyak monyet yang turun dari area tamam wisata.

“Kalau pagi-pagi bisa mencapai seratus ekor jumlahnya. Mereka lapar,” ujar Bu Eti saat ditemui di rest area, Rabu (15 April 2020).

Di lokasi taman wisata, kata Bu Eti, biasanya para pengunjung memberi mereka makan, jadi tidak terlalu banyak monyet yang turun ke rest area. Sekarang setelah taman ditutup, lebih banyak yang turun, memungut sisa makanan dan mencuri apa saja dari warung-warung yang masih buka, termasuk warung Bu Eti yang letaknya persis di samping gerbang TWAJ.

“Kemarin malah ada yang mencuri sekantong besar kerupuk dan toples permen,” kisah Bu Eti.

Bu Eti mengaku tak bisa sepenuhnya marah pada monyet-monyet itu. Meskipun nakal-nakal, tambah Bu Eti, monyet-monyet ekor panjang itu adalah makhluk yang setia kawan.

“Jika ada monyet yang mati ketabrak kendaraan atau kena strum listrik, puluhan monyet akan turun dari taman wisata dan mengeluarkan pekikan-pekikan keras bersahut-sahutan,” tutur Bu Eti.

Bu Eti yang mengaku berasal dari Desa Cimacan, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, berdagang di Rest Area Segar Alam, Puncak Pass, sejak tahun 1980-an. Sejak heboh corona, Bu Eti mengaku pendapatannya turun hingga 70 persen. Sebelumnya, banyak pengasong yang membeli makanan, minuman, dan rokok dari warungnya untuk kemudian dijajajakan kembali.

“Sekarang mah tidak ada. Pengasong mau jual ke siapa? Tak ada pengunjung yang datang. Sepi. Yang datang ke warung tinggal penduduk sekitar atau aparat yang lagi bertugas di sini, itu pun jarang. Warung lain di sini udah banyak yang tutup,” kata dia. (daz)

Comments

comments