Sering Dianiaya, Gaji 5 Tahun Tak Dibayar

0
28

CIANJUR, patas.id – Eti binti Udung Nosim (46 tahun), mantan pekerja migran Indonesia (PMI) asal Kabupaten Cianjur, kembali ke kampung halamannya tanpa mendapatkan bayaran selama 5 tahun. Selain itu, wanita asal Kampung Cicantu Babakan RT 003/RW 006, Desa Kebon Peuteuy, Kecamatan Gekbrong, Kabupaten Cianjur, tersebut selama 7 tahun bekerja di Arab Saudi sering dianiaya.

Wanita beranak empat itu berangkat menjadi PMI ke Jeddah, Arab Saudi, pada tahun 2010 melalui PT Rahmat Jasa Safira yang beralamat di Batu Ampar, Jakarta. Setelah bekerja selama 7 tahun dia pulang tahun 2017 lalu.

“Saya hanya membawa 2 tahun gaji, sementara yang 5 tahun tidak dibayar,” ujar Eti kepada wartawan, Selasa (29 Oktober 2019).

Eti mengaku bekerja di rumah Hamid Abdurahman Alharbi selama 7 tahun dengan gaji per bulan 800 Riyal Arab Saudi. Sedangkan total gaji yang belum dibayar mencapai Rp 177.600.000. Bahkan, lanjut ia, sering mendapat pukulan jika meminta pulang ke Indonesia. “Saya sering dipukul hingga berdarah-darah,” katanya.

Eti mengatakan, dalam kurun waktu 7 tahun berada di rumah majikan, ia pernah dibawa ke Konsulat Jenderal RI (KJRI) Jeddah untuk mengurus perpanjangan surat-surat dan mengurus kepulangan.

“Padahal majikan dulu berjanji saat di KJRI mau mengirimkan gaji yang 5 tahun. Tapi sampai sekarang tidak terbukti,” jelas dia.

Dia berharap pemerintah, terutama KJRI Jeddah, agar bisa memfasilitasi tuntutan gaji yang 5 tahun belum dibayarkan oleh mantan majikannya itu. “Saya berharap KJRI Jeddah bisa membantu menuntut Hamid Abdurahman Alharbi untuk secepatnya mengirmkan uang gaji,” ujarnya, penuh harap.

Sementara itu Ketua Divisi Hukum DPC Astakira Kabupaten Cianjur, Rahman Saepulloh, mengatakan, pihaknya akan memperjuangkan hak mantan PMI tersebut. Sebab, hal itu merupakan kewajiban pemerintah untuk membantu hak PMI.

“Kami dan tim akan terus berupaya agar mantan PMI ini dibayar gajinya selama 5 tahun,” tegas Rahman.

Rahman menambahkan, berdasarkan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2017 tentang Pelindungan Pekerja Migran Indonesia, tercantum ada perlindungan prapenempatan, masa penemapatan, dan purnapenempatan.

“Makanya kami akan terus perjuangkan. Apalagi kasihan itu hasil keringat wajib dibayar,” tukasnya. (daz)

Comments

comments