Kekeringan, Warga Angkut Air Bersih hingga 1,5 KM

0
21

CIANJUR, patas.id – Krisis air bersih yang masih melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Cianjur membuat warga harus mencari sumber-sumber air baru.

Hal ini seperti yang dialami warga di Kampung Cikole, Desa Cibaregbeg, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur.

Sudah dua bulan terakhir mereka harus mengantre pagi dan sore sekedar untuk mendapatkan seember air bersih yang diambil dari sebuah cerukan kecil di tepi sawah. Cerukan itu pun kini menjadi andalan satu-satunya ratusan warga dalam mendapatkan air bersih, setelah sumber-sumber air yang biasa digunakan, seperti kolam, sumur dan sungai mengering.

“Sudah dua bulan sumur tidak ada airnya. Untung masih ada cerukan ini, jadi masih bisa mendapatkan air meski harus antre panjang,” tutur Ning Hallimah (40 tahun), salah seorang warga setempat kepada wartawan, Selasa (1 Oktober 2019).

Ning menyebutkan, sejak musim kemarau datang atau sekitar lima bulan yang lalu debit air di sumurnya terus menyusut.

“Sekarang sudah tidak ada airnya sama sekali. Aliran sungai juga sama kering sejak bendungan irigasi Cikondang jebol, jadi air sudah tidak mengalir ke sungai sini,” ujarnya.

Selain dimanfaatkan oleh warga setempat, cerukan itu juga menjadi sumber air bagi warga dari kampung dan desa lain.

“Di kampung sudah tidak ada sumber air lagi, jadinya ngambil ke sini, Alhamdulilah masih ada, dan warga di sini mau berbagi,” tutur Eden (50 tahun), warga Kampung Parigi, Desa Sukamaju, Cibeber.

Namun karena jaraknya cukup jauh, sekitar 1,5 kilometer, Eden sendiri hanya sanggup mengangkut air empat ember.

“Sehari paling bisa dua kali, malam dan pagi, paling dapat dua jerigen. Untuk kebutuhan memasak, mandi dan cuci,” katanya.

Ceceng (37 tahun) sekretaris RT 003/RW 001 Kampung Cikole menyebutkan, krisis air bersih yang menimpa ratusan warganya diakibatkan musim kemarau dan aliran irigasi yang mengering akibat bendungan Cikondang jebol beberapa bulan lalu.

“Yang tersisa dua sumber air ini. Kalau yang di cerukan untuk mengambil air buat kebutuhan memasak dan mandi karena lumayan tidak begitu keruh. Kalau yang kolam khusus untuk kebutuhan MCK karena kondisinya kurang layak,” katanya.

Ceceng menyebutkan, dua sumber air tersebut tak hanya dimanfaatkan oleh warganya, namun juga oleh warga dari kampung dan desa lain, seperti dari Kampung Parigi dan Kampung Pasirmalang, Desa Sukamaju.

“Agar tertib, jadwalnya diatur, digilir. Untuk warga sini mengambil airnya pagi dan sore, kalau yang dari luar, malam dan subuh,” ucapnya.

Hingga saat ini warga mengaku belum pernah mendapatkan bantuan berupa pasokan air bersih dari pemerintah maupun instansi terkait.

“Padahal kami sangat mengharapkan itu. Karena dua sumber air yang tersisa ini debit airnya sudah semakin menyusut,” ujar Ceceng. (daz)

Comments

comments