Gas Chlor Milik Perumdam Bocor, Belasan Warga Keracunan

0
73

CIANJUR, patas.id – Belasan warga Kampung Ciajag 3, Desa Sirnagalih, Kecamatan Cilaku, Kabupaten Cianjur, menderita keracunan, Senin (30 September 2019) malam. Diduga keracunan terjadi akibat tabung gas chlor di bak penampungan air milik Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumdam) Tirta Mukti Kabupaten Cianjur mengalami kebocoran.

Akibat mengisap gas bocor tersebut, belasan warga di kampung tersebut menderita sesak nafas, mata berair karena iritasi, dan tenggorokan kering. Mereka segera dibawa ke Klinik As-Siddiq Ciwalen dan Inslatasi Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Daerah Cianjur.

“Tiba-tiba nafas saya sesak dan tenggorokan kering saat mengisap udara. Mata saya juga perih,” ujar Fitri (28 tahun), salah seorang korban, Selasa (1 Oktober 2019) dini hari.

Fitri mengaku tak sendirian mengalami gejala seperti itu. Saudara dan tetangganya pun ada yang menderita hal serupa. Dia pun segera dibawa ke RSUD Cianjur untuk mendapatkan pertolongan.

“Saya tak sempat menyelamatkan diri, sementara tetangga yang lain ada yang mengungsi ke tempat aman menghindari udara yang terkontaminasi gas bocor itu,” kata Fitri.

Sugilar, Ketua RW 05 Kampung Ciajag 3, Desa Sirnagalih, menjelaskan, ada 11 orang warganya yang dibawa ke RSUD Cianjur karena menderita keracunan gas chlor yang bocor. Sementara 6 orang lainnya mendapatkan perawatan di Klinik As-Siddiq Ciwalen.

“Semua mengalami sesak nafas karena kebocoran gas chlor dari bak penampungan air Perumdam Tirta Mukti Kabupaten Cianjur,” tutur Sugilar.

Menurut Sugilar, peristiwa keracunan tersebut terjadi sekitar pukul 22.00 WIB. Dia mengaku tidak tahu persis penyebab kebocoran tabung gas tersebut.

“Entah meledak atau bocor saya kurang tahu persis. Tiba-tiba warga bertumbangan karena sesak nafas dan sakit tenggorokan. Ternyata sumbernya dari gas chlor di bak penampungan air Perumdam,” kata dia.

Direktur Utama Perumdam Tirta Mukti Kabupaten Cianjur, Budi Karyawan, mengakui ada kebocoran tabung gas chlor di bak penampungan air milik Perumdam. Menurut dia, gas chlor tersebut dipakai untuk pembunuh kuman dan bakteri di tempat pengolahan air bersih.

“Hal ini baru pertama kali terjadi, padahal kami sudah puluhan tahun menggunakan gas chlor di hampir semua bak penampungan air,” kata Budi.

Budi menjelaskan bahwa tabung gas chlor itu bukan milik Perumdam, tapi dipasok oleh pihak ketiga. “Kami hanya pengguna gas tersebut, bukan penyedia,” tuturnya.

Budi juga mengatakan bahwa semua biaya perawatan para korban, baik yang dirawat di klinik maupun RSUD, ditanggung oleh pihak Perumdam.

“Kami juga memohon maaf kepada warga atas peristiwa tersebut. Seluruh biaya perawatan kami tanggung dan situasi di lokasi kejadian sudah kami tangani hingga steril kembali,” kata Budi. (daz)

Comments

comments