Kekeringan Tahun Ini, Ratusan Hektare Sawah Gagal Panen

0
36

CIANJUR, patas.id – Tingkat intensitas kekeringan tahun ini di Kabupaten Cianjur berdampak cukup signifikan terhadap sektor pertanian, terutama tanaman padi. Berdasarkan data Dinas Pertanian, Perkebunan, Pangan, dan Hortikultura Kabupaten Cianjur, selama Juni-Juli, lahan pertanian yang terancam kekeringan mencapai seluas 4.152 hektare dan sudah terdampak seluas 3.737 hektare.

“Dibandingkan 2017 dan 2018, luasan lahan pertanian yang terdampak kekeringan bukan lagi melonjak, tapi kami menyebutnya jumping,” terang Kepala Seksi Sarana dan Prasarana Dinas Pertanian, Perkebunan, Pangan, dan Hortikultura Kabupaten Cianjur, Dandan Hendayana, kepada wartawan, Rabu (31 Juli 2019).

Lahan yang sudah terdampak kekeringan seluas 3.737 hektare rinciannya terdiri dari kekeringan ringan seluas 1.272 hektare, kekeringan sedang 979 hektare, kekeringan berat 889 hektare, dan puso 579 hektare. Sedangkan pada 2017 selama periode Juni-September seluas 360 hektare terdiri dari kekeringan ringan 277 hektare, kekeringan sedang 44 hektare, kekeringan berat 39 hektare, dan puso nihil. Sementara pada 2018 selama Juni-September seluas 668 hektare terdiri dari kekeringan ringan 606 hektare, kekeringan ringan 47 hektare, kekeringan berat 889 hektare, dan puso nihil.

“Kemarau tahun ini memang cukup parah dibanding 2017 dan 2018. Pada 2017 itu terjadi aladina (kemarau basah). Pada 2018, pada Juli-Agustus itu masih ada hujan meskipun curahnya tidak begitu tinggi. Tahun ini, hujan terakhir itu pada 9 Juli dengan durasi kurang dari 3 jam. Itu tidak terlalu signifikan membantu ketersediaan air,” beber Dandan.

Lahan pertanian tanaman padi yang mengalami puso tersebar di 20 kecamatan. Di antaranya di Kecamatan Tanggeung dengan luas 135 hektare. Kemudian di Kecamatan Cibinong seluas 145 hektare, di Kecamatan Naringgul 43 hektare, di Cijati 47 hektare, di Pagelaran 54 hektare, di Mande 15 hektare, di Cikalongkulon 10 hektare, di Sukaluyu 15 hektare, di Bojongpicung 10 hektare, di Ciranjang, 12 hektare, dan sisanya tersebar di sejumlah kecamatan lain dengan luasan di bawah 10 hektare.

“Mayoritas berada di wilayah selatan karena merupakan sawah tadah hujan. Ada juga di lahan sawah irigasi akibat menyusutnya debit air dan normalisasi aliran sungai yang terganggu. Wilayah ini berada di wilayah hilir sehingga tak tersentuh jaringan irigasi primer, sekunder, dan tersier,” tuturnya.

Dandan mengatakan kemarau tahun ini dilihat dari siklusnya tak berubah seperti tahun-tahun sebelumnya. Periode kemarau terjadi selama 7 bulan dalam kurun April-Oktober setiap tahunnya.

“Tapi sebarannya tidak sama. Puncaknya pada periode Juli-Agustus. Dari data BMKG, Kabupaten Cianjur itu terbagi ke dalam lima zona musim yakni 68, 69, 70, 71, dan 72,” jelasnya.

Zona musim 68 (Cidaun, Sindangbarang, dan Agrabinta) merupakan wilayah yang pertama kali mengalami kemarau dengan puncaknya pada dasarian II (pekan kedua) Juli. Disusul kemudian zona musim 69 (Cibinong, Leles, Cikadu, dan Naringgul), puncak kekeringan terjadi pada dasarian III Juli.

“Untuk wilayah tengah dan utara (zona musim 70, 71, dan 72), puncak kekeringannya bulan depan, Agustus. Dari data kami, tingkat signifikansi efek kekeringan tahun ini jauh lebih tinggi dibanding 2017 dan 2018,” ucapnya.

Dari lahan sawah yang mengalami puso atau gagal panen tahun ini seluas 579 hektare, kata Dandan, maka jumlah produksi gabah kering giling yang sudah tak bisa diselamatkan lagi sekitar 2.895 ton. Jumlah itu berdasarkan asumsi per hektare menghasilkan 5 ton GKG.

“Penanganan yang kami coba lakukan dengan upaya bersifat jangka pendek. Jadi, lahan-lahan yang masih bisa diselamatkan, terutama yang kekeringan ringan, sedang, dan berat, kita turunkan statusnya. Misalnya dari berat ke sedang, sedang ke ringan, ringan jadi terancam, dan yang terancam jadi tidak terancam,” imbuh Dandan.

Caranya dilakukan dengan memaksimalkan alat mesin pompa air yang sudah disalurkan kepada petani melalui kelompok-kelompok tani. Hanya saja, pompa-pompa air tersebut harus sinergis dengan ketersediaan pasokan air di sumber-sumber air.

“Sehingga nanti petani bisa lebih cepat memproses pemeliharaan tanaman. Kami juga menambah jumlah unit pompa. Kami turunkan semua unit pompa air yang ada di Brigade Kabupaten dan Brigade Kecamatan. Malam tadi (Senin) kami juga mendapat tambahan bantuan tujuh unit pompa air kapasitas 4 inchi dari Kementerian Pertanian,” jelas dia.

Untuk penanganan jangka panjang, DP3H Kabupaten Cianjur juga mempercepat pembangunan fasilitas fisik. Misalnya pembangunan embung, dam parit (channel reservoir), serta long storage (bangunan penahan air yang berfungsi menyimpan air di dalam sungai, kanal dan atau parit pada lahan yang relatif datar).

“Ini bangunan-bangunan fisik itu sifatnya sedikit jangka panjang,” kata dia.

DP3H Kabupaten Cianjur sedang menyusun kebutuhan bahan bakar minyak untuk keperluan pemanfaatan pompa air. Langkah itu diperlukan karena jangan sampai terjadi pompa air tak bisa digunakan petani gara-gara tak memiliki biaya membeli BBM jenis solar.

“Kami akan mengajukan anggaran ini melalui APBD Kabupaten Cianjur. Alokasi biaya BBM ini untuk mengantisipasi keluhan dari para petani. Pompanya ada, sumber airnya ada, tapi tidak ada biaya untuk membeli BBM-nya. Kami sedang menghitung berapa liter kapasitas optimal jam operasionalnya dan lainnya,” tandasnya.

Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Cianjur, Wiguno Prihantono, mengatakan saat ini debit air di jaringan-jaringan irigasi mulai terpantau menyusut. Dampaknya, lahan sawah yang terancam kekeringan dan gagal panen lebih luas dibanding tahun-tahun sebelumnya.

“Hasil rapat koordinasi beberapa hari lalu, lahan terancam puso yang terdampak kekeringan tahun ini lebih parah,” kata Wiguno. (daz)

Comments

comments