Kekeringan, Warga Gali Sumur di Dasar Kolam

0
45

CIANJUR, patas.id – Warga Kampung Cisalak, Desa Cisalak, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur, tengah dilanda kekeringan parah. Sumber-sumber air yang selama ini digunakan warga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti sungai, sumur, dan kolam mengering sejak dua bulan terakhir.

Warga pun terpaksa mencari dan membuat sumber air baru, salahsatunya dengan menggali tanah di dasar kolam yang telah mengering.

“Mau bagaimana lagi, sungai sudah kering, kolam juga kering, jadi terpaksa harus menggali, mudah-mudahan saja ada airnya,” tutur Jaenudin (60 tahun) warga Kampung Cisalak kepada wartawan, Selasa (23 Juli 2019).

Dia mengaku terpaksa menggali kolam di belakang rumahnya itu agar bisa mendapatkan sumber air baru. “Kalau warga yang dekat sungai pakai sisa air (sungai) yang ada. Kalau saya kan agak jauh, jadi gali kolam ini saja,” ucapnya.

Ketua RW setempat, Yusup Cucun, menyebutkan, sejak bendungan irigasi Sungai Cikondang jebol Januari lalu, debit air di kolam dan empang di wilayahnya terus menyusut. “Puncaknya dalam sebulan terakhir ini, karena dampak musim kemarau juga, jadi kolam dan empang sekarang sudah benar-benar kering,” katanya.

Selain menggali tanah, warga juga berinisiatif membuat kubangan dengan cara membendung aliran air sungai yang tersisa dengan karung-karung pasir. “Termasuk membuat lobang-lobang (cerukan) di sungai ini. Airnya keluar tapi memang kurang bagus,” ujarnya.

Agar bisa tetap mendapatkan persediaan air, warga pun patungan menyewa mesin pompa agar air di salah satu kubangan di Kali Cisalak itu bisa disedot atau dialirkan ke kolam penampungan. “Kita swadaya untuk sewa dan beli bahan bakarnya. Air kita sedot ke kolam mesjid, dan warga MCK-nya di sana. Jadi kubangan ini untuk sumber saja,” katanya.

Namun, untuk menyedot air tidak bisa dilakukan setiap hari, karena debit air di kubangan semakin berkurang dan mudah keruh. “Sampai harus gadang hingga tengah malam untuk jaga air, karena tinggal ini sumber air yang ada dan bisa dimanfaatkan warga,” ucapnya.

Disebutkan Yusup, kondisi kekeringan yang terjadi saat ini adalah yang terparah sejak ia tinggal di wilayah tersebut. “Tahun 70-an pernah kemarau panjang hampir delapan bulan di sini, tapi sungai dan sumur tetap ada airnya. Sekarang baru dua bulan saja sudah kering kerontang seperti ini. Sumur, kolam, dan sungai tak ada airnya,” imbuhnya. (daz)

Comments

comments