Petani Cianjur Sukses Tanam Jagung Pelangi

0
90

CIANJUR, patas.id – Luki Lukmanulhakim (45 tahun), petani asal Kampung Lebak Saat, Desa Cirumput, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, sukses membudidayakan jagung warna-warni di atas lahan seluas 3 hektare. Jagung yang dikenal dengan istilah glass gem corn rainbow itu ternyata memiliki kandungan gizi yang tinggi dan sangat baik bagi kesehatan dibandingkan jagung biasa.

Luki menuturkan, ide awal dirinya menanam jagung varian ini karena senang mengoleksi plasma nutfah dari berbagai tanaman, salah satunya dari jagung.

“Saya mencoba menanam jagung jenis ini karena beberapa referensi menjelaskan kandungan warna yang ada pada jagung ini sangat baik untuk kesehatan, misal jagung yang berwarna hitam ternyata sangat baik dikonsumsi oleh penderita diabetes,” jelas Luki di Cianjur, Jumat (22 Juli 2019).

Luki mengaku mendapatkan benih jagung tersebut melalui internet atau membeli secara online. Saat itu ia mendapatkan empat kantong benih jagung berwana merah, ungu, hitam, dan putih.

“Dari empat warna itu saya coba tanam dengan cara silang campur. Hasilnya, saat panen ternyata bisa menghasikan 12 variasi warna baru, ada yang kuning corak hitam, ada yang bercorak seperti batik, bahkan ada yang di satu tongkol semua warna ada,” tuturnya.

Meski dari segi ukuran lebih kecil dan rasanya sedikit berbeda dengan jagung manis atau jagung hibrida lainnya, namun jagung jenis ini punya nilai ekonomis yang sangat tinggi.

Perbandingannya, sebut Luki, jika harga jual jagung biasa di tingkat petani sekitar Rp 2.000 per kilogram, maka jagung pelangi bisa mencapai Rp 9.000 per kilogram.

“Harganya cukup tinggi, apalagi kalau dijual dalam bentuk bibit atau benih. Harganya Rp 500 per butir,” katanya.

Soal pemeliharaan, tak ada perlakuan khusus, bahkan menanam jagung jenis ini terbilang lebih mudah dibandingkan jagung biasa karena punya masa tanam yang pendek.

“Kalau jagung biasa masa panennya sekitar 120 hari atau 3-4 bulan. Jagung ini dua bulan sudah bisa panen. Saya sendiri sudah empat kali panen,” terang Luki.

Dari hasil panennya itu, saat ini ia sudah punya stok benih siap jual untuk luasan 10 hektar dengan 12 varian warna yang dihasilkan.

“Tapi penjualannya baru lewat online dan memanfaatkan jejaring. Sudah ada beberapa yang pesan, di sekitaran Jawa Barat. Termasuk pemesan dari Pontianak dan Halmahera. Bahkan dari Jakarta ada yang sudah minta disuplai secara rutin,” ungkapnya.

Namun, Luki mengakui masih belum banyak yang mengenal jagung warna-warni seperti pelangi ini, bahkan di daerahnya bisa dibilang baru.

“Mungkin di Cianjur baru kami yang menanamnya. Tapi kami justru akan mencoba menciptakan pasar sendiri,” tandasnya.

Elsya (40 tahun), asal Kota Cimahi, yang berkunjung ke kebun milik Luki tampak takjub dengan warna jagung yang ditanam di lahan seluas 3 hektar itu. Jika biasanya jagung berwarna kuning, jagung yang ada di lahan tersebut memiliki warna yang beragam.

“Jarang sekali saya lihat jagung seperti ini. Yang saya tahu jagung itu warna kuning, ada juga yang putih dan hitam. Tapi di sini bisa berwarna-warni seperti ini bahkan ada yang banyak warna di satu tongkol. Unik dan cukup menarik,” tutur Elsya.

Elsya mengaku sengaja datang setelah mendengar kabar adanya budidaya jagung warna-warni di kebun hortikultura milik Luki Lukmanulhakim itu.

“Saya sengaja datang ke sini untuk melihat langsung. Saya memang senang dengan dunia pertanian apalagi yang agak anti-mainstream seperti ini,” katanya.

Ia juga mengaku sudah mencicipi jagung warna-warni karena penasaran dengan rasanya. Menurutnya, rasa jagung pelangi itu tidak jauh beda dengan jagung biasa.

“Meski tidak seenak jagung manis tentunya. Teksturnya sedikit lebih pulen. Kalau jagung manis kan kriuk gitu,” ucapnya.

Pengunjung lainnya, Fauzan (30 tahun), mengaku awalnya mengira jagung yang dilihatnya itu mainan karena warnanya yang sangat kontras mulai warna ungu, merah, hitam, putih, dan warna lainnya.

“Ternyata asli dan bisa dimakan. Saya baru tahu ada jagung selain warna kuning. Bahkan ada yang berwarna seperti butiran mutiara dan bercorak batik,” tutur Farhan.

Luki mengaku sejak menanam jagung pelangi ini banyak mendapat kunjungan, terutama pada saat panen. Dia pun sering mengajak pengunjung yang sedang bertamu untuk ikut memanen jagung warna-warni itu.

“Beberapa waktu lalu juga kita sempat kedatangan orang bule (orang asing) ke sini. Saat tahu di kebun ini ada jagung seperti ini, dia terlihat sangat antusias. Bahkan setelah petik langsung saja dimakan dari tongkolnya,” terang Luki.

Budidaya jagung pelangi itu sendiri dilakukan Luki sejak dua tahun yang lalu. Awalnya ia hanya tanam beberapa benih untuk contoh. Namun, setelah eksperimennya cukup berhasil, dia pun lantas menambah luas lahan untuk menanam jagung warna-warni. (daz)

Comments

comments