Dua Warga Sukataris Tolak Kartu Kombo

0
50

CIANJUR, patas.id – Dua warga Desa Sukataris, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Cianjur, menolak menerima Kartu Kombo dari program Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT). Alasannya, mereka merasa sudah mampu sehingga tak berhak menerima program bantuan tersebut.

“Iya, ada beberapa warga yang menolak menerima bantuan Kartu Kombo yang bisa ditukar dengan sembako itu dengan alasan sudah merasa sejahtera, padahal sudah masuk database penerima manfaat” ujar Kepala Desa Sukataris, Mohamad Nurulukman, saat penyerahan secara simbolis Kartu Kombo yang dilakukan Plt Bupati Cianjur, Herman Suherman, di Aula Bale Desa Sukataris, Jumat (14 Juni 2019).

Nurulukman mengatakan dari total 704 penerima bantuan di Desa Sukataris, berkurang dengan adanya penolakan tersebut. Dia mengatakan data BPS 2015 menjadi acuan dalam program bantuan tersebut sehingga data warga miskin saat ini yang mencapai seribu lebih belum terakomodasi semuanya.

“Adanya program bantuan pangan non-tunai berupa beras dan telur akan dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh warga. Program tersebut dicanangkan pengganti rastra dengan kualitas beras premium,” kata dia.

Siti Homsah (49 tahun), warga Kampung Kopo Wetan, Desa Sukataris, mengatakan, adanya program bantuan pangan non-tunai ini dirasakan membantu perekonomian.

Meskipun ia belum mengetahui persis penukaran kartunya, ia merasa bantuan tersebut akan membantu menghidupi empat orang anak dan meringankan beban suaminya yang bekerja serabutan.

“Katanya setiap bulan dapat Rp 110 ribu bisa ditukarkan ke 10 kilogram beras atau dikonversi ke telur disesuaikan dengan harga beras,” ujarnya.

Untuk tahap pertama sebanyak 307 warga menerima verifikasi data dan selanjutnya akan diserahkan kepada pihak desa. Sisanya sebanyak 374 penerima kartu kombo akan dibagikan bertahap pada kesempatan berikutnya.

Nurulukman menambahkan, basis data terpadu tahun 2015 menjadi dasar pendataan dari pusat.

“Warga yang belum menerima, bertahap semoga ada penambahan lagi dari penerima yang sudah yang menerima bantuan pangan non-tunai ini,” katanya.

Menurutnya saat ini banyak juga warga yang protes karena tak kebagian, padahal masuk katagori miskin. “Saya berkali-kali menjelaskan bahwa data yang diterima desa adalah data dari pusat sehingga pihak desa hanya menerima data dan membagikan kartu,” tandasnya. (daz)

Comments

comments