Nia Dinata: Sejarah Tragedi Trisakti 98 yang Terlupakan

0
105

CIANJUR, patas.id – Bermula dari monumen di kampus Trisakti yang sudah diabaikan. Para mahasiswa setiap hari melintasi tanpa pernah menyadari bahwa di sana ada darah yang tertumpah dalam tragedi Trisakti 12 Mei 1998 silam.

Kenyataan itu yang menarik Nia Dinata untuk mengingatkan sejarah yang mudah dilupakan, meskipun berada di depan mata.

“Dari sana saya berpikir ada sejarah yang harus disampaikan karena tidak diajarkan di bangku sekolah. Dari sana pula lahir gagasan untuk membuat sebuah film. Maka, lahirlah film pendek dengan judul Sejarah yang tak Pernah Diajarkan di Bangku Sekolah,” tutur Nia Dinata dalam diskusi dan nonton bareng film ‘Sejarah yang tak Pernah Diajarkan di Bangku Sekolah’ di Gedung Dewan Kesenian Cianjur, Rabu 27 Februari 2019 malam.

Warga terutama kaum milenial Cianjur diajak mengingat kembali perjuangan reformasi 1998 melalui film dokumenter berdurasi 15 menit tersebut. Film karya Nia Dinata ini menceritakan detik-detik pergerakan mahasiswa Trisakti melakukan orasi di dalam kampus kemudian melakukan aksi meminta pemerintahan orde baru untuk lengser. Tragedi pun terjadi, sebanyak empat orang mahasiswa menjadi korban tewas saat aparat mendesak mundur mahasiswa ke dalam area kampus.

Setelah pemutaran film, acara dilanjutkan dengan diskusi dengan pemateri Nia Dinata dan aktivis 98 Suci Mayang Sari.

Nia Dinata mengatakan, ia dengan serius mengumpulkan bahan untuk pembuatan film dari orang-orang yang terlibat dalam tragedi 98.

“Kami ingin mengingatkan generasi muda dengan film dokumenter, tema kami sejarah yang tak pernah diajarkan di bangku sekolah, kenapa saya ambil tagline itu karena saat pembuatan film ada celetukan itu dari generasi muda,” kata dia.

Nia mengatakan, saat ini waktu yang tepat untuk mengingatkan kembali generasi muda akan pentingnya perjuangan reformasi. “Ada sejarah ini dan apa yang mau dilakukan ke depannya itu yang terpenting, kami akan upload film ink ke media sosial agar mudah diakses semua orang,” katanya.

Aktivis 98 Suci Mayang Sari, mengatakan, saat ia dihubungi untuk pembuatan film dokumenter dan diminta menceritakan juga kronologisnya ia berpikir mudah tapi sulit.

“Mudah mengingat kronologis namun sulit karena mengungkit kembali rasa sakit yang sampai saat ini si pelaku masih ada di luar sana, kejadian itu memang benar, dan semengerikan itu, saat itu memang tak ada demokrasi,” ujar Suci.

Suci mengatakan reformasi ini bukan pemberian, namun sesuatu yang direbut dengan darah dan nyawa dan reformasi ini harus dijaga.

“Aktivis 98 sudah mengusahakan agar sejarah reformasi masuk kurikulum agar dikenal anak milenial,” katanya.

Seorang penonton film dokumenter Ricky Susan, 29 tahun, mengatakan, saat reformasi memang ia melihat kejadian hanya lewat televisi dan sekilas tanpa mengetahui runut kejadian. Terlebih karena ia berada di daerah dan tak terlalu mengetahui kejadian yang sebenarnya di ibukota.

“Setelah menonton film tadi saya terharu, sedih, dan miris ternyata tragedi 98 sangat menyeramkan,” katanya. (daz)

Comments

comments