Wabup: Maaf, Jembatan Putus karena Pemborong Khilaf

0
154

CIANJUR, patas.id – Wakil Bupati Cianjur, Herman Suherman, menyebutkan, putusnya jembatan gantung di Kecamatan Leles Kabupaten Cianjur dikarenakan kehilafan dari pemborong dimana baut pada pengait (spanskrup) tidak dilas. Akibatnya, ketika dilintasi pejalan kaki dan sepeda motor, pengait menjadi lepas. Hal itu membuat hanya ada satu pengait yang berfungsi sementara beban sangat berat, sehingga jembatan putus.

“Kalau dari pembangunan sudah sesuai spesifikasi, hanya ada kelalaian atau mungkin kehilafan dari pemborong dimana pengaitnya tidak dilas, sehingga lepas. Harusnya dilas,” kata dia.

Pernyataan Herman tersebut sekaligus membantah pernyataan sebelumnya yang menyebutkan bahwa penyebab putusnya jembatan karena kelebihan beban.

“Penyebabnya karena kelebihan beban, bukan kualitasnya yang jelek,” ujar Herman dalam pemberitaan sebelumnya.

Herman menjelaskan, jembatan sepanjang 66 meter dan lebar 1,2 meter dengan anggaran sekitar Rp 748 juta tersebut masih dalam masa pemeliharaan. Pasalnya jembatan itu baru penyerahan pertama pada tiga pekan lalu. “Pemeliharaan itu enam bulan, jadi masih tanggung jawab pemborong,” katanya.

Herman mengatakan, pihak pemborong mengaku sudah siap memperbaiki kembali jembatan tersebut. Selain itu, pemkab bakal memberikan sanksi kepada pemborong. Namun, lanjut dia, hal itu menjadi pelajaran untuk OPD agar lebih memperketat pemeriksaan dan pengawasan. Tidak hanya itu, setiap jembatan gantung bakal dipasangi papan batas tonase yang melintas.

“Sudah ada komitmen untuk memperbaiki dan mengobati para korban, tapi sanksi tetap diberikan. Saya akan tegaskan pada pengawas untuk lebih detail dalam pengawasan pascapembangunan,” tegasnya.

Berbagai kalangan di Cianjur mempertanyakan bentuk pengawasan dan proses penilaian akhir yang dilakukan dinas di Pemkab Cianjur, terkait putusnya jembatan gantung di Kecamatan Leles.

Kordinator Forum Pengawas Penyelamat Jasa Konstruksi (FP2JK) Cianjur, Saeful Najar, mengatakan, putusnya jembatan yang baru tiga minggu selesai itu, merupakan tanggung jawab pengusaha dan dinas terkait.

Pasalnya, ungkap dia, konstruksi jembatan gantung dengan bentangan yang cukup panjang itu, tidak ditunjang dengan kabel sling dan pengait yang sesuai dengan standar seharusnya, sehingga pengait dari besi tidak kuat menahan beban jembatan.

“Melihat dari pengait yang digunakan sampai patah, terkesan pengusaha tidak melakukan pekerjaan sesuai dengan RAB yang ditetapkan. Seharusnya hal tersebut dapat diantisipasi saat proses pengerjaan sedang dilakukan,” katanya.

Di sisi lain, Presidium Aliansi Masyarakat Untuk Penegakan Hukum (Ampuh) Cianjur, Yana Nurjaman, mengatakan, perlu ada audit secara mendalam oleh tim teknis. Pasalnya, dimungkinkan spesifikasi bahan yang tidak sesuai. Jika benar ada ketidaksesuaian, maka bisa masuk dalam pidana murni, tidak sebatas sanksi teguran atau masuk dalam catatan hitam.

“Penyebabnya tidak hanya dilihat dari kasat mata, tapi lihat juga spesifikasi bahan. Pastikan itu sesuai atau tidak. Jika tidak, segera pidanakan, sebab masuk pidana murni,” tuturnya. (isl)

Comments

comments