Banjir Bandang, Tembok Penahan Tanah Roboh

0
167

CIANJUR, patas.id – Tembok penahan tanah (TPT) di Sungai Cianjur roboh akibat banjir bandang, Sabtu (4 November 2017) malam. Robohnya tembok itu juga membuat tiga rumah mengalami kerusakan dan tiga lainnya terancam.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, robohnya TPT yang jaraknya hanya lima puluh meter dari pusat pemerintahan Kabupaten Cianjur tersebut terjadi pada pukul 20.30 WIB, dimana sebelumnya banjir besar terjadi mulai pukul 18.30 WIB. Bahkan banjir tersebut tingginya mencapai lima meter dari dasar sungai. 

Padahal jika terjadi hujan lebat, biasanya ketinggian air sungai tidak lebih dari dua meter, apalagi ketika hari biasanya arus sungai cukup kecil.

“Kemarin malam ini jadi tiga perempatnya, hampir setinggi teras warga. Sudah beberapa tahun tidak banjir begitu. Hujan juga tidak lama, dari sore sampai pukul 20.00 WIB,” ujar Dena Juwita (48 tahun), salah seorang warga, saat ditemui di rumahnya yang berada di seberang tembok yang roboh, Minggu (5 November 2017).

Menurut dia, sesaat sebelum tembok roboh, ketinggian air sudah berkurang hingga tinggal 3,5 meter. Namun ketika air mulai surut, tembok tersebut malah roboh sambil mengeluarkan suara gemuruh yang cukup keras.

“Sudah surut sekitar pukul 20.00 WIB itu. Ketika saya masuk ke dalam rumah, ada suara gemuruh, dikira banjir datang lagi, takutnya lebih besar. Sewaktu dilihat ternyata tembok yang roboh,” tuturnya.

Dia mengatakan, peristiwa tersebut merupakan yang ketiga kalinya. Dinding tersebut pertama kali roboh pada 2004, dimana masih berupa tanah. Empat tahun berselang dan ketika sudah dibuatkan tembok, bagian itu kembali roboh. “Ketiga kalinya kemarin, jadi total sudah tiga kali di titik yang sama,” ucapnya.

Aan Rohani (60 tahun) salah seorang warga Gang Kirana RT 02/RW 21, menjelaskan, rumah yang sudah ditempatinya selama 39 tahun itu terkena dampak dari banjir dan robohnya tembok tersebut. Bagian dapur dan kamar mandi yang paling mengalami kerusakan.

“Kalau kamar mandi sudah ada yang terlihat berlubang. Masih bisa dipakai tapi takut sewaktu-waktu ada longsoran,” ucapnya.

Meski masih khawatir akan ada banjir susulan yang mengakibatkan tanah belakang rumahnya terkikis, Aan dan tiga anaknya mengaku belum mau pindah. Dia akan tetap tinggal dan memilih untuk menjaga diri jiga terjadi hujan disertai banjir.

“Tidurnya di ruang tengah dan depan, kan tidak punya rumah lagi. Saudara juga jauh,” kata dia.

Selain rumahnya, ungkap Aan, ada lima rumah lainnya yang juga terkena dampak, namun tiga di antaranya hanya kerusakan kecil dan hanya terancam. Sementara dua rumah lainnya beserta rumah Aan sudah mengalami kerusakan cukup parah. (isl)

Comments

comments