Ribuan Santri dan Ulama Gelar Istigosah dan Nobar Film G 30 S PKI

0
164

CIANJUR, patas.id – Ribuan santri dan ulama di Cianjur mengelar istigosah dan nonton bareng film Pengkhianatan G 30 S PKI di halaman supermall Cianjur, Sabtu (30 Septemer 2017) malam.

Sebelum berkumpul di halaman parkir tersebut, para santri dan ulama melakukan pawai obor dari Masjid Agung Cianjur menuju lokasi pemutaran film. Meski masih diguyur hujan, para peserta tampak tetap antusias dan tak menghiraukannya. 

Bahkan jalan yang dilintasi oleh massa sempat ditutup untuk mengantisipasi padatnya arus kendaraan, sehingga kendaraan dialihkan ke jalur lain.

‎Ketua Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah Kabupaten Cianjur, Muhamad Toha, menatakan, kegiatan tersebut merupakan peringatan tahun baru Hijriyah dan masuknya Muharam (bulan pada kalender Islam).

“Kami ingin memperlihatkan semangat umat Islam, salah satunya melakukan ibadah sosial,” kata dia saat ditemui di sela-sela kegiatan.

Di samping itu, kata Toha, acara tersebut bertepatan dengan 30 September dimana terjadi peristiwa kelam ‎dan bertentangan dengan negara, sehingga pemutaran film Pengkhianatan G 30 S PKI pun dijadikan momen untuk mengantisipasi kebangkitan kelompok dan pemahamannya.

“Indikasi kebangkitannya harus diingatkan. ‎Sejarah itu tidak bisa dihapus, tapi pemahamannya apalagi terkait komunisme harus dihapuskan karena bertentangan dengan ideologi Pancasila. Tidak hanya para santri dan lingkungan pondok pesantren, tapi semua pihak dan lembaga harus ikut mencegah kebangkitannya,” ucap dia.

‎Komisioner Komite Cianjur Agamis,‎ Abdul Wahid, menuturkan, istigosah sekaligus pemutaran film sejarah yang bekerja sama dengan pemerintah, Polri, dan TNI tersebut dititik beratkan pada edukasi terkait kisah pemberontakan oleh kelompok yang ideologinya bertentangan dengan ideologi Pancasila.

“Kalau sebelumnya tercecer, sekarang kami gelar terpusat di halaman parkir supermall ini. Paling utama tentunya nilai sejarah dan pendidikan di dalamnya,” kata dia.

Dia mengungkapkan, ciri-ciri kebangkitan kelompok tersebut sudah terang benderang, mulai dari adanya seminar dan diskusi bersama. Bahkan belakangan ini pernah dilakukan pertemuan membahas peristiwa itu di Cianjur.

“Jangan biarkan benihnya terus subur. Ini kan bukan organisasi yang mudah dibubarkan, tapi penanaman pemahaman. Makanya kami jua terus ingatkan pada santri dan pelajar, untuk tingkatkan ilmu, iman, dan amal,” kata dia.(isl)

Comments

comments