Pamit ke Arab, 21 Tahun Alis tak Pulang-pulang

0
134

CIANJUR, patas.id – Pamit kerja ke Arab Saudi, Alis Juariah, (46 tahun), Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Kampung Muhara, Desa Haurwangi, Kecamatan Haurwangi, Kabupaten Cianjur, sudah 21 tahun tak ada kabar.

Selpi Lusniawati (27 tahun), anak kandung dari TKI tersebut kebingungan, lantaran sejak tahun 1998 ibunya pamit dari rumahnya mau bekerja di Riyad, Arab Saudi, sebagai asisten rumah tangga.

“Saat itu saya masih SD sekitar umur 6 tahun,” ujar Selpi di rumahnya, Selasa (13 Agustus 2019).

Selpi mengatakan, ibunya berangkat melalui jasa tenaga kerja PT Avida Avia Duta yang ada di Jakarta. Tapi ia tak mengetahui awal siapa yang membawa dari rumahnya. “Tidak tahu siapa sponsornya karena saat itu saya masih kecil,” katanya.

Ia mengatakan, sekitar tahun 2004 pernah ada sepucuk surat yang dikirim ibunya dari Arab Saudi yang isinya memprihatinkan, sehingga minta pertolongan untuk pengurusan pemulangan ke tanah air.

“Dalam isi surat itu, ibu saya mengaku sering disiksa, disekap di WC, bahkan pernah tangannya ditusuk pisau oleh majikan,” ujarnya.

Setelah menerima surat tersebut, Selpi sempat meminta bantuan ke BNP2TKI untuk pemulangan ibunya. Tapi tidak membuahkan hasil. Ia menambahkan BNP2TKI seolah tak peduli dengan nasib ibunya.

“Makanya saya dan kelurga meminta kepada Pak Presiden Joko Widodo untuk memulangkan ibu saya dari Saudi, ” katanya.

Pihak keluarga pun terus berusaha untuk memulangkannya dengan meminta bantuan pemerintah melalui instansi dan lembaga terkait, namun hingga saat ini belum membuahkan hasil.

Dikdik (39 tahun), adik kandung Alis, mengatakan, ia sempat menerima sepucuk surat dari kakaknya yang mengabarkan ingin pulang.

“Sejak pergi 21 tahun lalu itu sampai sekarang tidak pulang-pulang. Keluarga bahkan sempat mengikhlaskannya jika memang sudah meninggal dunia. Namun empat tahun lalu datang surat yang mengabarkan jika kakak saya ternyata masih hidup, namun nasibnya tidak beruntung,” kata Dikdik.

Menurutnya, kakaknya tak diperbolehkan keluar rumah, kalau majikan dan keluarganya pergi keluar, kakaknya dikunci di kamar mandi sampai majikan pulang.

“Kakak saya bisa kirim surat juga sembunyi-sembunyi, suratnya dititipkan ke sopir majikannya,” ujarnya.

Bahkan di surat yang terakhir, disebutkan Didik, kakaknya itu memohon agar segera bisa dipulangkan karena sudah tidak tahan dengan perlakuan sang majikan.

“Tolongin Dik, tolongin Teteh, Teteh sudah tidak kuat, Teteh disiksa, tangan Teteh ditusuk sampai 20 jahitan,” kata Dikdik.

Dikdik pun sudah mendatangi instansi terkait di Jakarta untuk meminta bantuan proses pemulangan saudari kandungnya itu. Meski keluarga sempat dihubungkan dengan pihak KBRI di Arab Saudi, namun upayanya untuk bisa memulangkan Alis tidak membuahkan hasil.

“Saya sudah bolak-balik ke Jakarta, pinjam sana sini bahkan jual yang ada untuk biaya agar kakak saya bisa segera dipulangkan, tapi belum ada hasilnya sampai sekarang,” ujarnya.

Ketua DPC Astakira Pembaharuan Kabupaten Cianjur Ali Hildan mengatakan, pihaknya baru mengetahui kasus tersebut setelah ramai di media sosial yang diposting di grup TKI Saudi Arabia.

“Setelah mendapatkan data PMI saya langsung menghubungi kepala desanya dan alhmdulillah kami langsung mendatangi keluarga PMI tersebut, ” ujar Ali.

Ali mengatakan, setelah didatangi pihak keluarga putri kandung dari PMI tersebut langsung membuat aduan ke Astakira untuk meminta bantuan atas kepulangan ibunya dari Saudi Arabia.

“Kami gerak cepat kemarin, sudah ada titik terang dengan cara melacak nomor majikannya,” katanya.

Menurutnya, ia belum bisa memastikan betul itu majikannya, tapi hasil obrolan nomor tersebut betul namanya Saed Al-Jahrani sesuai dengan pengakuan anak PMI.

“Sudah dua kali komunikasi dengan nomor yang diduga kuat nomor majikannya mudah-mudahan benar. Bahkan dia juga memastikan akan menelepon lagi dan bisa bicara langsung dengan PMI-nya,” katanya.

Ali mengatakan, pihaknya meminta kepada instansi berkompeten khususnya Disnankertrans Kabupaten Cianjur, BP3TKI Jabar, BNP2TKI, PWNI dan BHI Kemlu, KBRI Riyadh secepatnya merospon pengurusan dan pelacakan Alis Juariah bin E Rukma.

“Kami akan terus mendorong pihak instansi berkompeten agar Alis Juariah secepatnya dipulangkan ke tanah air serta pemenuhan hak,” katanya.

Ali mengatakan, pihaknya sudah mengontak KBRI dan Duta Besar pada siang kemarin, namun belum ada jawaban dari duta besar terkait permasalahan Alis Juariah tersebut.

“Kami sudah berusaha mengontak pihak KBRI dan duta besar tadi siang, namun belum ada jawaban,” kata Ali.

Plt Kepala Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Cianjur, Heri Suparjo, mengatakan dalam sistem komputerisasi tenaga kerja luar negeri (Siskotkln) nama Alis Juariah tidak terdaftar, karena Siskotkln mulai diterapkan pada tahun 2011.

Ia mengaku baru tahu juga dari media sosial perihal hilangnya warga Cianjur di Arab Saudi.

“Info tersebut didapat dari media sosial.

Kami segera tindak lanjuti untuk mendapatkan informasi terkait kronologisnya,” kata Heri.

Heri mengatakan sebagai tindak lanjut, pihaknya akan berkirim surat ke Kemenlu dan BNP2TKI, untuk penanganan selanjutnya. (daz)

Comments

comments