Kekeringan, Warga Cisalak Manfaatkan Air Kubangan

0
45

CIANJUR, patas.id – Ratusan warga Kampung Cisalak Hilir, Desa Cisalak, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur, memanfaatkan air kubangan sungai untuk kebutuhan sehari-hari. Selain memanfaatkan kubangan, warga juga berinisiatif membendung aliran air sungai yang tersisa di Kali Cisalak itu dengan karung-karung pasir.

Sunarti (32 tahun), warga Kampung Cisalak Hilir, menjelaskan, setelah kubangan penuh terisi air, warga lantas menggunakannya untuk aktivitas mandi dan mencuci. Sayangnya, kondisi air di sejumlah kubangan tampak keruh dan kotor, bahkan kubangan air sungai yang berada di Kampung Cisalak Hilir berada di antara tumpukan sampah yang berserakan.

“Kami dan warga lainnya tak punya pilihan lagi sehingga terpaksa tetap menggunakannya. Mau bagaimana lagi, tidak ada sumber air lagi, sumur di rumah sudah tidak ada airnya, sudah dua bulan lebih (kering),” kata Sunarti kepada wartawan, Senin (21 Juli 2019).

Sunarti menyebutkan, untuk aktivitas mandi, mencuci beras, pakaian, dan perabot dapur dilakukan warga di kubangan air sungai tersebut. “Namun kalau untuk buang air besar tidak boleh di sini, jadi harus mengambil air dulu dari sini ke rumah,” sebutnya.

Diah (35 tahun), warga lainnya, menambahkan, kondisi air yang sejak dua bulan terakhir dipakai untuk kebutuhan sehari-hari itu sangat tidak layak. “Kalau kemarin paling cuma keruh, sekarang sudah mulai bau airnya,” ucapnya.

Ketua RW 005, Kampung Cisalak Hilir, Yusup Cucun (64 tahun), mengatakan, sejak irigasi Sungai Cikondang, Cibeber, jebol Januari lalu, debit air di Kali Cisalak terus menyusut.

“Sejak irigasi Cikondang rusak, kondisinya seperti ini, air tidak lagi masuk ke sini, ditambah sekarang kemarau panjang, semakin sulit saja warga mendapatkan air karena sumur-sumur juga sudah kering,” tuturnya.

Warga pun berinisiatif untuk membendung aliran air sungai yang tersisa, termasuk membuat cerukan-cerukan. Yusuf menyebutkan, kubangan dan cerukan air tersebut kini tak hanya dimanfaatkan warga setempat, namun juga warga dari kampung lain seperti dari Bagogog, Parikatek, Babakan Pasir Jeruk, dan Pasir Bawang.

“Kondisi airnya kurang bagus, tapi setidaknya (warga) masih bisa mendapatkan air untuk kebutuhan MCK,” ujarya.

Disebutkan Yusup, kondisi kekeringan yang terjadi saat ini adalah yang terparah sejak ia tinggal di wilayah tersebut. “Tahun 70-an pernah kemarau panjang hampir delapan bulan di sini, tapi sungai dan sumur tetap ada airnya. Sekarang baru beberapa bulan saja sudah kering kerontang seperti ini. Sumur, kolam, dan sungai kering,” ungkapnya.

Karena itu, Yusup berharap pemerintah peduli terhadap bencana yang sedang menimpa warganya dengan sesegera mungkin mendistribusikan bantuan air bersih. “Saya pernah ikut rapat beberapa kali katanya akan ada bantuan (air bersih) dari pemerintah tapi sampai sekarang belum juga datang,” ujarnya. (daz)

Comments

comments