Hampir 70 Persen Permukaan Waduk Cirata Tertutup Eceng Gondok

0
14

CIANJUR, patas.id – Petani Keramba Jaring Apung (KJA) di perairan Waduk Cirata mengeluhkan keberadaan gulma eceng gondok yang semakin memenuhi permukaan air. Hampir 70 persen perairan Waduk Cirata yang melingkupi tiga wilayah, yakni Kabupaten Cianjur, Purwakarta, dan Bandung Barat tertutupi eceng gondok.

Ketua Kelompok Penggerak Pariwisata (Kompepar) Pesona Wisata Jangari, Kecamatan Mande, Kabupaten Cianjur, Hendrawan, menyebutkan, eceng gondok telah menutupi hampir 70 persen perairan Waduk Cirata. Sebaran paling masif terdapat di Blok Sangkali wilayah Kabupaten Bandung Barat, Blok Cokelat Cikidang Bayabang, dan Calincing di Kabupaten Cianjur.

“Namun sebarannya dinamis atau berpindah-pindah karena mengikuti arus air juga dan angin,” ujar Hendrawan di Cianjur, Selasa (16 Juli 2019).

Selain mengganggu budidaya ikan keramba, eceng gondok juga berimbas pada aktivitas pariwisata setempat.

Selain merusak pemandangan, eceng gondok juga kerap menghalangi jalur perahu angkutan wisatawan atau pengunjung.

“Saat ini penanganannya baru sebatas inisiatif dari masyarakat. Kita sendiri rutin melakukan kegiatan Jumat Bersih. Namun karena menggunakan alat seadanya, sehari paling dapat 10 karung,” ungkapnya.

Usep, petani KJA di Blok Cipanas, Margaluyu, Kabupaten Bandung Barat, menyebutkan, keberadaan tanaman air itu cukup mengganggu aktivitas budidaya ikan di keramba.

“Ikan jadi kekurangan oksigen, nafsu makan ikan juga berkurang sehingga menghambat ke pertumbuhan,” kata Usep.

Dengan kondisi ikan seperti itu, kata dia, masa panen yang seharusnya bisa dilakukan 4 bulan menjadi 6 bulan.

“Kematian ikan juga jadi mudah. Ikan Nila yang biasanya paling kuat bertahan dibandingkan jenis ikan lainnya, sekarang malah yang paling rentan mati,” ujarnya.

Akibatnya, sejak tiga tahun terakhir hasil panen terus menurun, Usep pun terkadang harus mempercepat masa panen karena khawatir semakin banyak lagi ikan yang mati.

“Tingkat kematiannya sekitar 10 persen dari jumlah benih ikan yang kita sebar di keramba, dan itu terus bertambah sejak eceng gondok banyak,” ucapnya.

Ketua Kelompok Mitra KJA, Yayan, menyebutkan, keberadaan eceng gondok sudah berlangsung sejak dua tahun terakhir. Selama ini, penanganannya baru sebatas inisiatif dari para pemilik dan pengelola KJA dan dilakukan dengan alat seadanya.

“Kita bukan tanpa upaya, dulu rutin setiap minggu mengangkatnya dari air. Tapi kewalahan juga karena alat yang kita gunakan seadanya, sedangkan eceng perkembangannya sangat cepat,” tuturnya.

Mereka berharap ada langkah nyata dari pemerintah dan pihak terkait dalam penanganan hama gulma tersebut.

“Sebenarnya dari kelompok-kelompok KJA sendiri sudah lama mengajukan bantuan untuk pengadaan alat pengangat atau mesin penghancur, namun informasinya belum ada realisasi sampai saat ini,” ujarnya.

Kepala Dinas Kelautan Perikanan dan Peternakan Kabupaten Cianjur, Parwinia, tak memungkiri tumbuh kembangnya eceng gondok di perairan Waduk Cirata bisa berdampak terhadap kondisi ikan air tawar. Setiap bulan pada pekan kedua rutin dilakukan aksi normalisasi eceng gondok.

“Kami libatkan masyarakat pelaku usaha di sana (Waduk Cirata), aparatur pemerintahan desa serta aparatur pemerintahan kecamatan. Termasuk Dinas Lingkungan Hidup dan Satpol PP,” terang Parwinia.

Ia mengatakan sebetulnya eceng gondok bisa dikelola hingga menjadi produktif. Namun, kata dia, pengelolaan eceng gondok itu ranahnya pada Dinas Lingkungan Hidup.

“Ada memang yang sudah dimanfaatkan di beberapa kecamatan. Tapi itu ranahnya DLH,” tandas dia.

Selain serangan hama eceng gondok, Parwinia menjelaskan, kematian massal ikan di KJA juga bisa terjadi ak8bat fenomena upwelling. Fenomena ini biasanya terjadi saat intensitas curah hujan tinggi.

Kondisi tersebut, kata Parwinia, membuat endapan atau sedimentasi pakan di dasar air bermunculan ke permukaan yang membuat ikan kehabisan oksigen. “Tapi kalau sekarang sih tidak terjadi seperti itu,” kata Parwinia.

Parwinia menuturkan kewaspadaan terhadap berbagai potensi yang bisa memicu kematian massal ikan terus dilakukan. Satu di antara pelibatan elemen masyarakat yang mengawasi langsung di lapangan.

“Jadi kami punya yang namanya kelompok pengawas masyarakat (pokwasmas). Pokwasmas merupakan bentukan dari provinsi. Di Jangari ada sekitar 4 Pokwasmas dan di selatan ada 6 Pokwasmas. Jadi mereka mengawasi sendiri di lapangan,” imbuhnya.

Perikanan air tawar di keramba jaring apung di Waduk Cirata terbilang cukup potensial. “Produksi ikan air tawar di Waduk Cirata merupakan pemasok kedua nasional,” kata dia. (daz)

Comments

comments