Dana BSM Ratusan Juta Dikemplang Kepala Sekolah

0
68

CIANJUR, patas.id – MAW, mantan Kepala SMKN 1 Cikalongkulon, Kabupaten Cianjur, ditahan tim penyidik Kejaksaan Negeri Cianjur, Jumat (12 Juli 2019) malam. MAW yang kini menjabat sebagai Kepala SMKN di Kecamatan Leles itu, disangkakan menilap uang program Bantuan Siswa Miskin (BSM) tahun anggaran 2015 untuk 1.071 siswa senilai lebih kurang Rp 419 juta saat masih menjadi Kepala SMKN 1 Cikalongkulon.

Penahanan dilakukan usai tersangka menjalani proses pemeriksaan selama lebih kurang 3 jam sejak pukul 15.00 WIB hingga pukul 18.00 WIB. Tersangka yang didampingi kuasa hukumnya lantas dibawa ke Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Cianjur sekitar pukul 20.00 WIB.

Saat digiring dari ruang tim penyidik menuju ke mobil tahanan, sempat terjadi insiden. Tersangka yang terkesan menolak diliput, sempat mengibaskan tangannya ke arah telepon genggam wartawan. Akibatnya, telepon genggam wartawan terjatuh.

Kepala Kejaksaan Negeri Cianjur, Yudhi Sufriyadi, menjelaskan, kasus yang menjerat tersangka terjadi sekitar 2015. Saat itu tersangka diduga menyalahgunakan dana program BSM yang peruntukkannya bagi siswa miskin.

“Tersangka menyalahgunakan kewenangannya dan melawan hukum diduga dengan cara mengambil dana bantuan siswa miskin,” kata Yudhi di kantor Kejari Cianjur, Jumat (12 Juli 2019) malam.

Sesuai aturan, kata Yudhi, dana BSM itu diterima masing-masing siswa melalui rekening bank. Namun, diduga oknum kepala sekolah itu memerintahkan guru pendamping agar mengambil alih pencairan dana BSM.

“Secara rinci nanti ada di dakwaan. Intinya, dana BSM itu seharusnya diambil perorangan ke bank dan dimanfaatkan siswa. Tapi tersangka menyuruh guru pendamping mengambil untuk kepentingan pribadinya. Hasil penghitungan Inspektorat Daerah, kerugian negara akibat ulah tersangka lebih kurang sebesar Rp 419 juta,” tutur Yudhi.

Penanganan kasus tersebut sudah cukup lama. Namun Kejari Cianjur baru menerima Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) dari Polres Cianjur sekitar November 2018.

“Hari ini (Jumat malam) tersangka kami periksa dan langsung kami tahan. Saat ini kami titipkan di Lapas Kelas II B Cianjur untuk 20 hari ke depan,” jelasnya.

Tersangka disangkakan melanggar Pasal 2 Subsidair Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Ancaman hukumannya maksimal 20 tahun.

“Untuk saat ini tersangka baru satu. Tapi tidak menutup kemungkinan (ada tersangka lain). Kita lihat nanti fakta di persidangan,” tandasnya.

Kepala Seksi Pidana Khusus Kejari Cianjur, Tjut Zelvira Novani, menambahkan, total dana BSM yang diduga digunakan tersangka sebesar Rp 748.500.000. Namun, dari audit penghitungan kerugian yang dilakukan Inspektorat Daerah Kabupaten Cianjur, nilainya lebih kurang Rp 419 juta dengan dalih sisa dana yang diduga ditilap tersangka digunakan membangun fasilitas sekolah.

“Jadi, dari saksi ahli berdasarkan LHP (laporan hasil pemeriksaan) Inspektorat, nilai kerugian itu sekitar Rp 419 juta karena gedungnya ada, kemudian pembelian-pembelian yang lain juga ada,” tambah Tjut.

Tjut menuturkan, nilai dana BSM sebesar Rp 748.500.000 itu diambil tersangka dalam beberapa kali pencairan. Tersangka berkelit dana BSM itu bukan untuk kepentingan pribadi, namun digunakan untuk membangun ruang kelas baru, pengecoran, dan kebutuhan fasilitas lainnya.

“Itu kan hanya pembelaan tersangka. Dari hasil penyidikan dan alat bukti, tersangka menggunakan uang tersebut sendiri tanpa ada pelibatan bendahara sekolah atau pihak lain. Bendahara sekolah hanya disuruh tersangka membuat laporan pertanggungjawaban terhadap kegiatan yang bukan peruntukannya,” ucapnya.

Tim penyidik Kejari Cianjur mengamankan berbagai barang bukti yang kebanyakan merupakan dokumen dalam bentuk surat. Berdasarkan fakta berkas yang dikumpulkan sebagai barang bukti, sejauh ini Tjut melihat tidak ada keterlibatan pihak lain.

“Tapi nanti kita lihat saja fakta persidangan,” pungkasnya. (daz)

Comments

comments