Jalan Ambles Ancam Distribusi Logistik Pemilu 2019

0
13

CIANJUR, patas.id – Ruas jalan sepanjang 50 meter yang berstatus jalan provinsi ambles di Kampung Parabon, Desa Sukarame, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Cianjur. Ruas jalan tersebut merupakan akses transportasi yang menghubung wilayah Cianjur kota dengan Cianjur selatan, tepatnya antara Kecamatan Sukanagara dengan Kecamatan Pagelaran.

Kapolres Cianjur, AKBP Soliyah, mengatakan, ruas jalan yang ambles sepanjang 50 meter yang menghubungkan Kecamatan Sukanagara dengan Pagelaran tersebut perlu segera ditangani. Sebab, keberadaan ruas jalan itu dinilai penting mengingat saat ini dihadapkan pada rencana distribusi logistik Pemilu 2019.

“Ini harus segera ada penanganan. Kami sudah koordinasikan dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Provinsi Jawa Barat. Kalau tak segera ditangani, khawatir akan berdampak pada distribusi logistik dan akses warga saat pemungutan suara,” kata Soliyah di sela-sela kegiatan Simulasi Pemungutan dan Penghitungan Suara Pemilu 2019 di Cianjur, Minggu (24 Maret 2019).

Soliyah mengatakan sudah menurunkan 1 peleton personel Dalmas Polres Cianjur untuk membantu penanganan evakuasi di lokasi bencana.

“Kami sudah mengirimkan personel bantuan ke lokasi untuk membantu pengamanan dan proses evakuasi,” tandasnya.

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Cianjur masih memberlakukan status siaga darurat banjir dan longsor hingga Mei tahun ini. Penetapan status kebencanaan itu didasari pertimbangan ekstremnya kondisi cuaca saat ini yang disertai tingginya curah hujan dan angin kencang.

“Status darurat banjir dan longsor masih berlaku. Waktunya sampai Mei. Jadi sampai sekarang belum dicabut,” tutur Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cianjur, Sugeng Supriyatno.

Pada Rabu (20 Maret 2019) petang hingga malam, sejumlah titik di Kecamatan Sukanagara dan Pagelaran diterjang bencana banjir dan tanah longsor. Di Kecamatan Sukanagara bencana terjadi di Kampung Babakan Mala, Desa Gunungsari. Sebanyak tiga rumah masing-masing milik Oom (60 tahun), Jubaedi (55 tahun), dan Endang (60 tahun), tertimbun longsor. Tidak ada korban jiwa. Hanya, salah seorang penghuni di rumah itu, Silvi Afriyanti (17 tahun), mengalami luka ringan. Saat ini korban dirawat di puskesmas setempat.

Sementara di Kampung Gelar Anyar, Desa Sukakarya, banjir merendam enam rumah yang dihuni 23 jiwa. Keenam rumah warga itu masing-masing milik Sutardi, Juanda, Asep Samsu, Yusuf, Suparman, dan Suhendi.

Banjir juga merendam rumah warga di Kampung Ciagra, Desa Sukalaksana. Namun hingga kini belum diketahui pasti jumlah rumah yang terdampak lantaran masih dalam proses asesmen tim BPBD. Sedangkan di Desa Sindangsari, longsor terjadi di Kampung Babakan. Material tanah longsor menimpa rumah warga yang belum diketahui identitasnya.

“Kabupaten Cianjur memang rawan bencana. Semua potensi bencana ada. Kami tetap mengantisipasi berbagai potensi bencana itu dengan menyosialisasikan agar masyarakat bersahabat dengan alam dan lingkungan,” jelas Sugeng.

Tahun lalu indeks risiko bencana di Kabupaten Cianjur berada di peringkat tertinggi di Indonesia. Namun tahun ini, kata Sugeng, indeks risiko bencana turun berada di peringkat ke delapan.

“Alhamdulillah, sekarang sudah turun peringkat indeks risiko bencana di Cianjur. Ini berkat berbagai upaya yang kami lakukan untuk mengurangi risiko bencana,” tegasnya. (daz)

Comments

comments