Jokowi: Saya Tak Marah, tapi Saatnya Bicara

0
77

CIANJUR, patas.id – Presiden RI, Joko Widodo, mengaku situasi saat ini membuat dirinya harus bicara. Jika sebelumnya dia selalu diam, maka saat ini perlu memberikan penjelasan supaya tidak selalu jadi korban fitnah.

“Saya tidak marah, tapi saat ini saya harus bicara. Selama ini saya mencoba diam, tapi sekarang tak bisa dibiarkan karena akan menjadi fitnah,” ujar Jokowi di Wana Wisata Pokland, Kecamatan Haurwangi, Kabupaten Cianjur, Jumat (8 Februari 2019).

Di hadapan ribuan masyarakat pemanfaat hutan sosial, Jokowi ‘curhat’ soal dirinya yang selama ini jadi korban fitnah. Tapi, sebelumnya, dia memilih diam.

“Saya dituding PKI-lah. Dituding mengkriminalisasi ulamalah. Ulama ini ribuan, kalo ada satu yang bermasalah kena kasus hukum, misalnya, ya dihukum, bukan berarti kiminalisasi,” kata Jokowi.

Jokowi juga sering difitnah anti Islam. Padahal, dia yang menandatangani Hari Santri. “Yang tanda tangan Hari Santri siapa? Sekarang saya harus ngomong, tapi bukan marah,” tutur Jokowi.

Bahkan, yang sering ditudingkan bahwa Jokowi antek asing. Padahal tanpa banyak ingar-bingar, Blok Mahakam yang 50 tahun dikelola asing, pada 2015 diambil alih Pertamina. Demikian pula dengan Blok Rokan yang 90 tahun dikelola Chevron. Saat ini sudah dikuasai 100 persen oleh Indonesia.

“Bayangkan Freeport yang lebih dari 40 tahun dikuasai perusahaan Amerika, 2018 saham mayoritasnya kita diambil alih. Itu bukan pekerjaan mudah. Kalau mudah, pemerintah sebelumnya pasti bisa melakukannya,” tukas Jokowi.

Jokowi lantas mengingatkan maayarakat jangan terjebak dengan fitnah, hoaks, dan dusta. “Hati-hati! Gunakan pikiran dan rasionalitas. Kata Cak Lontong: Mikir! Mikir! Mikir!” tandas Jokowi. (daz)

Comments

comments