Tak Puas Putusan Hakim, Pengacara Enda Lapor ke Komisi Yudisial

0
73

CIANJUR, patas.id – Tim pengacara korban tersengat listrik, Enda Supriyadi (7 tahun) akan melaporkan majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Cianjur, ke Komisi Yudisial (KY).

Pelaporan itu dilakukan atas dugaan adanya praktek suap dalam penanganan kasus kecelakaan bocah yang tersengat listrik saluran udara tegangan menengah yang mengakibatkan korban mengalami cacat fisik permanen.

Adi Supriadi, salah seorang pengacara korban, menjelaskan, dalam sidang putusan itu, majelis hakim memutuskan pihak PT PLN Persero diwajibkan membayar ganti rugi kepada korban sebesar Rp 165 juta. Padahal dalam tuntutannya, tim pengacara korban menggugat PT PLN sebesar Rp 10 miliar.

Adi menilai majelis hakim, yang di terdiri dari Dicky Wahyudi S, Laurenz Stephanus Tampubolon, dan Erlinawati tidak memenuhi unsur kemanusiaan.

“Hasil pertimbangan yang dibacakan majelis hakim saat sidang putusan tidak sesuai dengan kesaksian dari para saksi, baik saksi ahli maupun saksi lainnya,” ujar Adi kepada wartawan usai sidang di PN Cianjur, Rabu (16 Januari 2019).

Adi menambahkan, pihaknya menolak hasil sidang putusan itu dan akan kembali melayangkan gugatan, termasuk gugatan pidana yang ada dalam kasus itu.

“Kami akan melaporkan ketiga hakim tersebut ke Komisi Yudisial. Selain itu kami juga akan melaporkan kasus pidana yang dilakukan PLN dan pihak ketiga dengan menjerat mereka berdasarkan tindakan kelalaian yang menyebabkan orang lain menderita cacat permanen serta masalah perlindungan anak di bawah umur,” tegas Adi.

Sidang putusan itu sendiri mendapatkan perhatian dari puluhan warga yang hadir, termasuk para aktivis dari Posko Perjuangan Rakyat (Pospera) yang selama ini melakukan pendampingan kepada korban.

Mereka tetap menuntut pihak PLN bertanggung jawab kepada Enda Supriyadi yang jadi korban sengatan aliran listrik di rumahnya, di Desa Sukamanah, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur.

Deni Sunarya alias Gawel, salah seorang aktivis, mengatakan, para pengadil di PN Cianjur tidak memiliki rasa kemanusian dengan penderitaan korban.

“Coba lihat anak usia 7 tahun yang cacat permanen tangannya buntung karena tersengat aliran listrik. Bagaimana masa depannya? Apa hal itu tidak masuk dalam pertimbangan hakim?” kata Deni.

Deni juga menuntut pihak PLN bertanggung jawab baik secara materil maupun imateril.

“PLN harus bertanggung jawab sesuai dengan UU Nomor 30 Tahun 2009 yang berbunyi PLN harus melindungi dan bertanggung jawab terhadap pengguna listrik negara,” katanya.

Sebelumnya, Manajer PLN Area Cianjur, Rahmi Handayani, mengaku sudah menanggapi keinginan korban dengan datang memberikan santunan kepada korban.

Dia juga mengatakan, pihaknya sudah mengedepankan sisi kemanusiaan dan musyawarah dalam setiap kunjungan kepada keluarga korban.

“Kami berusaha untuk menyelesaikan masalah dengan mengedepankan sisi kemanusiaan, kami berharap semua pihak dapat mendukung upaya penyelesaian masalah,” katanya. (daz)

Comments

comments