Komisi V Akan Panggil Manajemen Lion Air

0
16

CIANJUR, patas.id – Komisi V DPR RI mendesak pemerintah mengevaluasi menyeluruh regulasi keselamatan penerbangan menyusul jatuhnya pesawat Lion Air JT610 rute penerbangan Jakarta-Pangkalpinang di Perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat. Apalagi ke depan industri penerbangan di Indonesia diprediksi bakal semakin ramai dengan tingginya minat masyarakat menggunakan pesawat terbang.

“Sangat perlu dievaluasi secara menyeluruh. Sejauh ini industri penerbangan di Indonesia menjadi bisnis yang cukup menjanjikan karena banyak masyarakat yang berminat menggunakan pesawat terbang,” ujar anggota Komisi V DPR RI, Neng Eem Marhamah Zulfa Hiz, usai menghadiri acara Kemah Bakti Santri untuk Negeri dan Jalan Sehat PC Nahdlatul Ulama Kabupaten Cianjur di Lapang Singabarong, Cibodas, Kabupaten Cianjur, Sabtu (3 November 2018).

Menurut Eem, evaluasi bukan hanya sebatas kondisi pesawat milik setiap maskapai. Lebih dari itu harus ada regulasi yang mengantisipasi potensi terjadinya kecelakaan udara.

“Sewaktu kami kunjungan ke Bali dan Jawa Timur, traffic di udara juga cukup padat. Pesawat mau lepas landas saja perlu antre. Pesawat yang kami tumpangi harus berputar-putar dulu karena terjadi traffic jam,” kata legislator Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa itu.

Eem menambahkan, padatnya traffic penerbangan membuat kapasitas semua bandara di Indonesia saat ini sudah overload. Karena itu, kata Eem, Komisi V meminta Kementerian Perhubungan bisa membuat regulasi tegas.

“Ini harus segera dicari jalan keluarnya. Bukan hanya kaitan infrastruktur (bandara), tapi juga aturan yang bisa membatasi. Regulatornya dalam hal ini Kementerian Perhubungan yang harus tegas dalam aturan mainnya. Operator tidak bisa jalan tanpa seizin regulator, utamanya dalam pengecekan pesawat. Kami harapkan tak hanya dilakukan saat pesawat akan lepas landas saja, tapi juga dilakukan secara rutin,” beber Eem.

Eem menuturkan, pemerintah saat ini seperti dilematis membuat aturan penerbangan. Di satu sisi pemerintah diuntungkan dengan adanya maskapai penerbangan yang menawarkan harga terjangkau. Tapi di sisi lain, pelayanan yang diberikan sejauh ini belum maksimal.

“Ini yang harus ditegaskan itu. Minimnya harga yang ditawarkan maskapai penerbangan tak lantas mengabaikan pelayanan termasuk keselamatan penerbangan. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Perhubungan harus profesional dan menindak tegas,” ucapnya.

Sejauh ini, kata Eem, Komisi V DPR belum menggelar rapat dengar pendapat dengan Kementerian Perhubungan sebagai mitra kerja maupun dengan Lion Air sebagai perusahaan maskapai penerbangan untuk mengetahui persis penyebab terjadinya kecelakaan. Namun sebelumnya Komisi V sudah menggelar rapat dengar pendapat dengan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

“Kalau dengan Kementerian Perhubungan maupun pihak Lion Air belum kami agendakan pemanggilan karena waktu itu reses. Tapi sebelum terjadinya kecelakaan, kami sudah memanggil KNKT untuk mengetahui sejauh mana kinerja instansi tersebut. Tapi nanti setelah reses kami akan agendakan memanggil Kemenhub maupun pihak Lion Air,” tegasnya.

Pemanggilan Kementerian Perhubungan serta Lion Air nanti, sebut Eem, juga untuk mengetahui pasti penyebab terjadinya kecelakaan. Karena itu Eem tak mengetahui persis penyebabnya akibat kelalaian atau karena hal lain. Saat kejadian, berdasarkan informasi BMKG, kondisi cuaca saat itu dalam keadaan normal. Pun dari fasilitas pesawat yang informasinya masih baru.

“Kalau dari human error kecil kemungkinan karena pilotnya sudah berpengalaman terbang lebih dari 9 ribu jam. Standard pilot itu minimal berpengalaman 3 ribu jam terbang. Ini artinya pilot sudah profesional,” kata dia.

Namun Eem mengendus beberapa kejanggalan. Di antaranya soal arah pesawat yang titik jatuhnya bukan berada di jalur penerbangan Jakarta-Pangkalpinang.

“Kalau melihat rute, mestinya pesawat terbang ke arah Timur Laut. Itu berarti rutenya ke arah Banten. Tapi ini ke arah utara. Dari info yang saya kumpulkan, pilot katanya sudah menyampaikan akan kembali karena ada kendala di pesawat. Mestinya informasi itu ditanggapi cepat. Tapi nanti untuk kepastiannya menunggu dari black box yang sekarang sudah ditemukan. Dari kotak hitam itu akan tahu percakapan terakhir dari pilot,” tandasnya. (daz)

Comments

comments