Pemerintah Cianjur Nyatakan ‘Perang’ Terhadap Gerakan LGBT

0
57

CIANJUR, patas.id – Bupati Cianjur, Irvan Rivano Muchtar, melantik sekaligus mendeklarasikan Satuan Tugas Tim Pemberantasan Penyakit Masyarakat (TPPM) di Pendopo Kabupaten Cianjur, Senin (22 Oktober 2018). Tugas tim ini memberantas penyakit masyarakat, termasuk menggencarkan penolakan perilaku seks menyimpang yang sekarang jadi fenomena.

“Peringatan Hari Santri Nasional juga jadi momentum penanggulangan LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender) yang saat ini sedang kami gencarkan. Nanti tim ini akan membuat program kerja yang jadi skala prioritas,” kata Wakil Bupati Cianjur, Herman Suherman, kepada wartawan, usai deklarasi dan pelantikan Tim Pemberantasan Penyakit Masyarakat di Pendopo Cianjur, Senin (22 Oktober 2018).

Herman menyebut upaya penanggulangan LGBT di Kabupaten Cianjur tak hanya sebuah retorika. Lebih dari itu ada upaya nyata agar aktivitas LGBT tak terus berlangsung dengan masif.

“Kami juga melakukan roadshow ke setiap OPD. Ini dilakukan agar untuk menanggulangi LGBT ini harus bekerja bersama-sama. Minimalnya bisa tersosialisasikan kepada masing-masing keluarga. Termasuk roadshow ke sekolah-sekolah setiap Senin menyosialisasikan bahaya LGBT,” terang Herman.

Herman mengatakan ‘perang’ terhadap LGBT bukan didasari diskriminasi terhadap personalnya. Tapi lebih kepada upaya merangkul para pengidap kelainan seksual menyimpang agar kembali ke jalan yang benar.

“Justru kami menyayangi mereka. Sudah jelas kan LGBT itu diharamkan dalam agama (Islam). Makanya Pemkab Cianjur membuat surat edaran ke setiap masjid agar khutbah salat Jumat bermaterikan sosialisasi bahaya LGBT,” tegasnya.

Bahkan, kata mantan Direktur Utama PDAM Tirta Mukti itu, Pemkab Cianjur sudah menyiapkan sejumlah tempat yang bisa digunakan bagi para pengidap kelainan seksual menyimpang itu untuk berobat. Ia menjamin identitas mereka akan dirahasiakan.

“Kami siapkan pengobatan di Dinas Kesehatan. Silakan hubungi ke sana. Perawatan dan pengobatannya kami siapkan,” ucapnya.

Intinya, kata Herman, pendekatan keagamaan sangat diperlukan kepada pengidap kelainan seksual menyimpang. Pasalnya, ia menyakini penyebab terjadinya kelainan seksual menyimpang lebih disebabkan faktor minim pengetahuan keagamaan dan kesehatan.

“Kami menolak perilakunya, bukan orangnya. Orangnya harus dirangkul karena mereka warga kita juga, warga Cianjur. Kami sebagai pemimpin wajib mengingatkan masyarakat yang kebablasan agar selamat dunia dan akhirat. Ini karena kami menyayangi mereka agar tak terjerumus. Kami hanya berupaya. Masalah dia kembali ke kodratnya sebagai manusia normal atau tidak, dikembalikan lagi kepada masing-masing personal,” tandasnya.

Ketua Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Cianjur, KH Abdul Halim, mengaku diminta Pemkab Cianjur membuat materi khutbah salat Jumat berkaitan dengan LGBT. Isinya memberikan nasihat dan ajakan agar kembali ke jalan yang benar.

“Tidak setiap salat Jumat. Hanya satu kali saja. Pada intinya, perilaku LGBT itu merupakan penyimpangan menurut ajaran agama (Islam),” kata Abdul Halim. (daz)

Comments

comments