Kejari Cianjur Melawan Putusan Sela Kasus Pencabulan

0
19

CIANJUR, patas.id – Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Negeri Cianjur melawan putusan majelis hakim yang menyatakan dakwaan terhadap AA (18 tahun), terdakwa kasus pencabulan sesama jenis, batal demi hukum dalam sidang putusan sela, Kamis (11 Oktober 2018) lalu.

Jaksa penuntut, Angga Insana Husri, mengatakan, saat ini pihaknya melawan putusan sela tersebut ke Pengadilan Tinggi.

“Kami akan tunggu putusan dari Pengadilan Tinggi apakah menolak atau menguatkan, kami pun siap melakukan upaya lainnya,” kata Angga dalam keterangan persnya di Kantor Kejaksaan Negeri Cianjur, Senin (15 Oktober 2018).

Angga mengatakan, majelis hakim melakukan putusan sela dakwaan batal demi hukum dengan alasan tidak cermat, tak jelas, dan tak lengkap. “Ini pertama di Indonesia, ada putusan sela yang menyatakan dakwaan terhadap kasus pencabulan batal demi hukum. Tidak cermatnya di mana?” kata Angga.

Angga mengatakan pihaknya akan berupaya semaksimal mungkin dalam upaya untuk menjerat terdakwa yang telah menyebabkan tiga orang korban di bawah umur ini.

“Di sini kami menilai majelis hakim tak memperhatikan rasa keadilan, lebih memperhatikan keputusan,” katanya.

Pekerja Sosial pada Dinas Sosial Kabupaten Cianjur, Novia Dessy, melihat ada keganjilan dalam jalannya sidang. Dalam putusan sela disebutkan telah mendengarkan keterangan saksi, namun ia melihat para saksi dalam setiap sidang selalu ada di dekatnya.

“Mereka masih polos masih berusia kelas 2 SD, kelas 3 SD, dan ada yang masih TK, mereka selalu berada di dekat saya ketika sidang, tiba-tiba majelis hakim menyebut dalam putusan sela telah mendengarkan keterangan saksi, ini sangat ganjil,” katanya.

Novia berharap ia bisa mengawal kasus ini sampai tuntas dan berharap persidangan bisa dilanjutkan agar memberi efek jera bagi terdakwa. “Kasihan korban, apalagi yang paling kecil sempat sakit panas selama seminggu, mereka pasti trauma,” katanya.

Novia berharap pihak keluarga pun diberi kekuatan untuk mendapat keadilan. “Memberikan rasa keadilan bagi mereka para korban tentu akan membantu memulihkan trauma,” kata Novia.

Dikonfirmasi terpisah, Humas Pengadilan Negeri Cianjur Erlinawati mengatakan, sidang kasus tersebut memang sudah diputus hari Kamis batal demi hukum karena mengandung cacat formal. “Berkas dikembalikan dan terdakwa harus dikeluarkan dari tahanan,” kata Erlinawati.

Ia mengatakan, putusan sela merupakan hak veto dari majelis hakim, putusan hasil musyawarah namun tak bulat karena ada disenting opinion dari satu hakim. “Kenapa majelis hakim ganjil tujuannya apabila deadlock diambil suara terbanyak, kemarin dua lawan satu,” ujarnya.

Ia mengatakan, putusan sela bukan putusan akhir, putusan tersebut juga tak menyinggung bukti.

“Ini lebih kepada masalah administrasi yang kurang, hal ini dimanfaatkan pengacara terdakwa yang disampaikan melalui eksepsi,” katanya. (daz/*)

Comments

comments