Jumlah Gay di Cianjur Terus Bertambah

0
18

CIANJUR, patas.id – LSM Lensa Cianjur mencatat ada 617 gay atau laki-laki seks laki-laki (LSL) baru selama periode Januari-Juli 2018. Angka tersebut membuat jumlah gay di Tatar Santri kini diperkirakan lebih dari 3.000 orang.

Koordinator Lapangan Lensa Cianjur, Tedi Rustandi, mengatakan, dibandingkan dengan tahun lalu, temuan gay baru tidak begitu signifikan. Pada 2017 lalu angkanya bisa 100-200 orang per bulan.

“Bisa dibagi saja untuk tahun ini dari 600 dibagi berapa bulan, hanya puluhan. Memang tidak signifikan tambahannya, tapi perlu dicatat, angkanya tertus bertambah,” ujar dia usai rapat koordinasi di Kantor Komisi Penanggulangan HIV/AIDS, Rabu (10 Oktober 2018).

Menurutnya, dengan bertambahnya gay tersebut, kini total gay yang sudah tercatat mencapai 3.452 orang, sementara tahun sebelumnya sudah mencapai lebih dari 2.000 orang. Dengan 47 persen di antaranya merupakan warga usia 17-24 tahun.

“Usia 25 hingga 50 tahun di angka 45 persen, selanjutnya di usia lanjut, tapi tak banyak. Beberapa juga ada di usia SMP,” kata dia.

Dia memaparkan para gay atau LSL tersebut sudah memiliki perkumpulan atau komunitas sendiri. Ada beberapa tempat keramaian yang menjadi tempat berkumpulnya komunitas tersebut. “Untuk lokasinya kami tidak bisa menyebutkan, tapi ada di beberapa pusat keramaian,” kata dia.

Tedi menjelaskan, setiap pelaku seks menyimpang cenderung akan mencari target baru. Mereka yang sedang tidak memiliki tujuan ataupun tengah menjalani masalah di keluarga biasanya akan mudah dibujuk untuk menjadi pengidap seks menyimpang juga.

“Mulanya akan diajak komunikasi secara intens, kemudian dibelikan barang, kuota internet dan lainnya. Hingga pada akhirnya melakukan seks sesama jenis dan selanjutnya akan menjadi perilaku yang menerap atau juga jadi pelaku seks menyimpang,” kata dia.

Sayangnya, lanjut dia, tidak ada ciri khusus yang bisa terlihat dari pelaku seks menyimpang ini. Pasalnya meskipun sedikit kemayu atau lebay belum tentu dia gay, begitupun yang terlihat maskulin belum tentu normal, bisa jadi merupakan gay.

Maka dari itu, orangtua harus lebih waspada dengan terus mengawasi perilaku anaknya. Minimalnya dengan memeriksa telepon pintar, jika ditemukan ada percakapan dengan sesama jenis yuang menjurus pada seks menyimpang atau aplikasi khusus bagi kaum gay, anak tersebut perlu segera dibimbing dan dibina agar tidak terjerumus lebih jauh.

Kepala Bidang Advokasi dan Penganan Perkara Pusat Pelayanan Terpadu dan Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Cianjur, Lidya Indayani Umar, menyebutkan, di tahun ini, pihaknya mendapatkan laporan masuk terkait anak yang hampir bergabung dengan kelompok gay.

“Baru tahun ini dapat aduan begitu. Jadi orangtua ini menyampaikan jika anaknya akan diajak bergabung, tapi segera ketahuan dan minta konsultasi untuk pencegahan,” kata dia.

Dia mengatakan, untuk mengantisipasi penularan perilaku seks menyimpang tersebut, ketahan keluarga perlu dikedepankan. Pasalnya mereka yang terjerumus dalam perilaku negatif, kebanyakan karena permasalahan keluarga anak akan mencari pelarian dan mudah untuk terjebak.

“Kami terus sosialisasikan dan genjot ketahan keluarga, salah satunya untuk mengantisipasi perilaku seks menyimpang ini,” ucapnya.(daz/*)

Comments

comments