Banjir Rob Terjang Pesisir Sukabumi Selatan

0
68

SUKABUMI, patas.id – Gelombang pasang di pesisir Pantai Kebon Kalapa, Karanghawu, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, membuat warga terutama para pedagang kalang-kabut. Pasalnya, sampai sekarang gelombang masih cenderung tinggi pascaterjangan yang memporak-porandakan sejumlah warung, Selasa (24 Juli 2018).

Hingga Rabu (25 Juli 2018), para pemilik warung yang bangunannya rusak masih membereskan puing-puing akibat terjangan gelombang pasang.

“Kemarin (Selasa) ombak besar terjadi sekitar pukul 11.00 WIB. Sempat mereda tapi kemudian ombaknya besar lagi pukul 03.00 WIB dini hari tadi,” ujar Jajat Sudrajat (35 tahun), warga Citepus, Sukabumi.

Jajat mengatakan, warga tak bisa menangkal musibah tersebut. Saat ini para pemilik warung fokus menyelamatkan barang-barang rumah tangga dan barang dagangannya.

“Sekarang gelombangnya masih besar. Semoga saja tidak terjadi lagi gelombang susulan hingga ke tepian pantai seperti kemarin,” harapnya.

Lilis Lisna Hermawati (42 tahun), warga Kampung Muara Desa Cisolok Kecamatan Cisolok, berharap mendapatkan bantuan dari pemerintah.

“Saya bingung, rumah gubuk satu-satunya ambruk. Ditambah suami saya sedang sakit,” harapnya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, gelombang pasang di pesisir pantai selatan Kabupaten Sukabumi dipicu angin kencang di lautan lepas. Kondisi itu akibat bergeraknya masa udara kering dan dingin dari benua Australia yang saat ini tengah menjalani musim dingin.

“Efek itu menjalar dari perairan lepas Samudra Hindia menuju utara melewati ekuator (garis khatulistiwa) sehingga menyebabkan gelombang tinggi. Kabupaten Sukabumi terdampak karena posisinya dekat dengan Australia,” kata Prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Provinsi Jawa Barat, Jadi Hendarmin, Rabu (25 Juli 2018).

Menurut Jadi, kondisi itu diperkirakan BMKG masih akan berlangsung hingga beberapa hari ke depan. Apalagi saat ini musim dingin masih berlangsung di Australia. Jadi, gelombang tinggi yang terjadi sekarang ini bukan tsunami.

“Masyarakat harus tahu dengan cara mencari informasi yang akurat agar tidak panik. Gelombang tinggi sekarang diakibatkan tiupan angin kencang di laut lepas bukan tsunami,” paparnya.

Ia berpesan agar masyarakat di sepanjang pesisir lebih waspada, sebab gelombang tinggi dapat terjadi sewaktu-waktu.

Camat Cisolok, Asep Mauludin, meninjau langsung Pantai Kebon Kalapa Karanghawu dimana banyak bangunan warung terdampak gelombang tinggi air laut.

“Kami bersama pihak kepolisian, Desa Cisolok, SAR Daerah, dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Sukabumi terus mengimbau masyarakat agar tetap waspada dan sebisa mungkin menjauh dari sekitar pantai,” ungkap dia.

Asep menegaskan, hingga saat ini kondisi gelombang masih tinggi. Bahkan kekhawatiran warga tak kunjung hilang mengingat kondisi gelombang dapat naik lagi sewaktu-waktu.

“Kami akan upayakan untuk bantuan dan penataan kawasan wisata juga warga yang bangunannya terseret ombak,” bebernya. (daz/*)

Comments

comments