Setiap Ramadan Ada Kampung Caruluk di Cianjur

0
102

CIANJUR, patas.id – Setiap memasuki bulan Ramadan, salah satu kampung di Kabupaten Cianjur selalu mendapat julukan Kampung Caruluk alias kolang-kaling. Apa sebab? Pasalnya, setiap tahun sudah menjadi tradisi di kampung tersebut hampir semua penduduknya menjadi pembuat kolang-kaling musiman.

Ya, Kampung Caruluk, begitu sebutan bagi Kampung Kedunghalang Desa Sukamanah Kecamatan Cugenang Kabupaten Cianjur. Setiap bulan Ramadan kampung ini menjadi sentra pembuatan kolang-kaling musiman. Ada sekitar 20 perajin kolang-kaling yang memproduksi makanan khas bulan puasa ini.

Setiap bulan Ramadhan para perajin kolang-kaling ini banjir pesanan dari sejumlah pasar tradisional di Cianjur. Untuk memenuhi pesanan tersebut, para perajin itu melibatkan anggota keluarga serta tetangga dan warga lain di kampung tersebut.

“Bahkan anak-anak yang masih usia sekolah turut membantu orangtua mereka. Kebiasaan ini mereka lakukan saat liburan Ramadan tiba. Selain membantu orangtua, anak-anak biasanya melakukan aktivitas sambil ngabuburit,” ujar Asep Jaenudin, 40 tahun, salah seorang perajin kolang-kaling, Selasa (22 Mei 2018).

Asep memaparkan, cara pembuatan kolang-kaling ini cukup sederhana. Buah aren yang dipetik dari pohonnya dikumpulkan dan direbus hingga matang. Setelah matang, buah aren tersebut lantas dikupas dari cangkangnya.

“Sebelum dijual, kolang-kaling yang sudah dikupas itu kemudian digeprek agar terlihat pipih dan teksturnya mengenyal,” kata Asep.

Asep menambahkan, dalam sepekan dia mampu memproduksi satu hingga dua kuintal kolang-kaling. Bahkan, kalau sedang ramai pesanan dan bahan bakunya ada, bisa memproduksi hingga satu ton.

“Dalam sehari bisa terjual kurang-lebih satu kuintal dengan harga Rp 8 ribu hingga Rp 10 ribu per kilogram, tergantung bentuk dan kualitasnya,” tutur Asep.

Sementara itu, Lilis Saidah (35 tahun), warga setempat, mengakui setiap bulan Ramadan kampungnya sudah menjadi tradisi memproduksi caruluk alias kolang-kaling sehingga sering disebut Kampung Caruluk.

“Iya, kalau masuk bulan puasa kampung ini ramai disebut Kampung Caruluk karena penduduknya hampir semuanya bikin caruluk,” kata Lilis.

Lilis menambahkan, banyak warga yang ikut bekerja mengupas dan menggeprek kolang-kaling dengan upah lumayan.

“Dengan upah satu ember Rp 12 ribu, dalam sehari bisa menggeprek kolang-kaling dua hingga tiga ember,” ujar dia. (daz/*)

Comments

comments