Ada Tugu Mangkok Bubur di Pertigaan Beunying

0
162

CIANJUR, patas.id – Pembangunan Tugu Mangkok Bubur Ayam di persimpangan Jalan Raya Pacet-Beunying, tak jauh dari Kantor Kecamatan Pacet jadi omong warga. Mereka menilai pembangunan tugu itu asal-asalan dan tidak melihat unsur filosofi suatu daerah.

Pegiat seni asal Cipanas, Eko Wiwid, mengaku kecewa dengan dibangunnya tugu itu. Sebab, dengan berdirinya tugu mangkok itu tidak mewakili identitas wilayah itu (Pacet dan Cipanas).

“Buat saya, selaku yang mencintai lemah cai atau tanah kelahiran, tentu dengan adanya Tugu Mangkok ini kurang setuju. Karena menurut saya, nilai filosofi yang berkenaan dengan identitas Cianjur tidak cukup hanya dengan soal mangkok. Banyak nilai yang berkaitan semangat dan identitas Cianjur khususnya di Cipanas,” kata Eko, Senin (21 Mei 2018).

Eko menyebutkan, di kawasan Cianjur atau Cipanas banyak yang bisa jadi objek nilai filosofis yang bisa diangkat untuk jadi kebanggaan. Meskipun Cianjur terkenal juga dengan buburnya, tapi itu tidak menggambarkan atau mewakili alam dan sejarah Cianjur.

“Mangkok Bubur ada di seluruh Indonesia bahkan dunia juga ada. Banyak yang bisa diangkat dan banyak pilihan. Perlu kajian yang bisa mempersentasikan warga Cipanas. Bisa saja hewan khas, pohon khas Gunung Gede atau yang lainya. Bisa juga kehidupan ataupun sejarah masyarakat Cipanas,” jelasnya.

Sementara itu, Asep Supriatna (30 tahun) mengaku merasa lucu melihat dibangunnya tugu mangkok di kawasan Kecamatan Pacet. Sebab, sepengetahuannya pembangunan sebuah tugu harus dapat menggambarkan atau mewakili suatu wilayah dengan kekhasannya.

“Ini tiba-tiba saja dibangun tugu mangkok, sementara kawasan Pacet dan Cipanas terkenal dengan alamnya, baik pertanian ataaupun pariwisata. Jadi, dengan adanya tugu mangkok tersebut dinilai kurang elok,” ungkap Asep.

Dia meminta Pemkab Cianjur agar lebih selektif dalam menentukan setiap pembangunan tugu jangan terkesan asal-asalan dan hanya untuk menghabiskan anggaran.

“Pelajari kultur wilayahnya sehingga, pembangunannnya tak mubadzir. Komunikasikan dengan tokoh budaya atau seni. Sebab, tentunya mereka pasti lebih paham tugu apa yang pantas dibangun di wilayahnya,” tutur Asep. (daz/*)

Comments

comments