Tarif Angkum Akan Diubah

0
63

CIANJUR, patas.id – Pemerintah Kabupaten Cianjur melalui Dinas Perhubungan berencana mengubah sistem tarif angkutan umum (angkum). Hal itu dilakukan untuk menyesuaikan kondisi angkum pasca perubahan trayek beberapa waktu lalu.

Kepala Bidang Angkutan Dinas Perhubungan Kabupaten Cianjur, Jekso Ronggo Ardhi, menjelaskan, sistem tarif yang diterapkan saat ini jarak jauh-dekat sama Rp 3.000. Sitem tersebut dinilai perlu penyesuaian pasca perubahan rute angkutan dimana nantinya tarif yang dikenakan sesuai dengan jarak.

“Jauh-dekat tarifnya tidak sama, tapi dihitung berdasarkan jarak atau kilometer. Seperti angkutan di luar wilayah perkotaan,” kata Jekso kepada wartawan, Minggu (22 April 2018).

Namun, dia menyebutkan bahwa penerapan atau perubahan sistem tarif tersebut belum bisa dilakukan dalam waktu dekat, sebab pihaknya tengah melakukan pemeriksaan terhadap angkutan-angkutan di Kabupaten Cianjur. Hal itu dilakukan agar ketika sistem berubah, semua angkum sudah sesuai aturan, mulai dari tertib Uji KIR, memiliki surat resmi, dan lain-lainnya.

“Setelah semua urusan selesai, kami langsung buat kajian dan segera diterapkan perubahannya. Kalau sekarang masih fokus berbenah pasca perubahan jalur,” tuturnya.

Dia menyebutkan, perubahan sistem memang dilakukan untuk menyesuaikan rute angkum supaya pihak angkutan tidak merasa dirugikan, mulai dari jarak yang mereka anggap terlalu jauh sehingga berimbas pada konsumsi bahan bakar.

Jekso juga menegaskan, rute angkutan yang saat ini sudah paling baik untuk perkembangan transportasi Cianjur ke depan. Pasalnya kondisi di wilayah perkotaan turut berubah seiring waktu, sehingga trayek perlu penyesuaian.

“Dengan trayek yang sekarang, semakin banyak tempat yang terjangkau. Memang perlu ada penyesuaian dengan kondisi saat ini. Makanya sistem tarif juga disesuaikan, supaya saling menguntungkan. Perlu waktu hingga semuanya berjalan normal,” kata dia.

Sementara itu, Rian, koordinator sopir lintasan 04, menuturkan, trayek saat ini terlalu panjang, sehingga membuat pendapatan sopir habis untuk kebutuhan bahan bakar kendaraan. Sementara penumpang tidak banyak dan tarif masih yang sebelumnya.

“Belum lagi ada angkutan online, jadinya calon penumpang banyak yang beralih. Kalau kondisinya seperti ini terus, lebih baik dikembalikan ke trayek yang lama. Jika tidak, harus ada penyesuaian tarif supaya sopir tidak rugi terus,” tuturnya. (isl)

Comments

comments