Dikepret Guru, Siswa SMP Langsung Gatal-gatal

0
103

CIANJUR, patas.id – AR (15 tahun), AN (15 tahun), dan YC (15 tahun), tiga siswa SMPN 1 Cibeber mengaku mendapatkan perlakuan kasar dari oknum guru dengan alasan terlambat mengikuti upacara di sekolah pada Senin (26 Maret 2018).

AN, pelajar kelas IXi, mengaku diperlakukan kasar oleh oknum guru. Menurutnya sasaran yang menjadi kekerasan di bagian kepala, bahkan sebelum dipukul AN mengaku dijambak rambutnya.

“Gara-garanya kesiangan tidak ikutan upacara. Waktu itu saya dipukul di ruang kelas VII dan kebetulan tak ada satupun guru yang tahu kejadian ini,” ungkapnya, Selasa (27 Maret 2018).

Dia mengatakan, oknum guru tersebut melakukan kekerasan bukan hanya itu. Tapi pernah juga dengan menggunakan bambu kecil lalu dipukulkan ke salah satu bagian tubuh.

“Pas waktu dipukul badan saya menjadi gatal-gatal begitu,” katanya.

Humas SMPN 1 Cibeber Hermawan menjelaskan bahwa tidak ada guru yang memperlakukan kasar anak didiknya, apalagi sampai pemukulan atau tindak kekerasan.

“Setahu saya tidak ada kasus penamparan,” kata Herman.

Herman menegaskan, hukuman bagi pelajar yang kesiangan khususnya di hari Senin memang ada, namun bukan dengan perlakuan kasar melainkan hanya dengan menyuruh anak tersebut membersihkan WC.

“Ya, kalaupun ada yang kesiangan, paling juga kita hukum untuk membersihkan WC sekolah, kalau kekerasan kita tidak ada,” terang Hermawan.

Pemerhati Dunia Pendidikan Kabupaten Cianjur, Edi Efendi, mengatakan, pihaknya sangat menyayangkan dengan adanya kekerasan yang masih terjadi di lingkungan sekolah. Menurutnya, seorang guru harus lebih bijak dalam menghadapi anak yang kurang disiplin. Bukan cara menampar akan tetapi dengan cara pemberian tugas belajar seperti halnya anak diberi soal salah satu mata pelajaran dan jumlah soalnya tidak banyak hanya 5 soal.

“Soal tersebut harus dikerjakan di sekolah dan dibimbing oleh gurunya,” kata Edi.

Dikatakan Edi, penamparan sudah masuk ranah fisik dan jelas tidak boleh karena anak bukannya akan nurut akan tetapi sebaliknya si anak akan berpikir dan meniru yang akhirnya timbul kekerasan. Seharusnya hukuman diberikan berupa baris-berbaris seperti dari lapang masuk ke ruang kelas masing masing atau PBBAB.

“Atau hukuman harusnya memungut sampah maksimal tiga sampah baik itu plastik ataupun kertas yang ada di lingkungan sekolah. Kemudian sampah tersebut diperlihatkan kepada gurunya bahwa ia telah mengambil sampah sebanyak tiga buah,” ujarnya.

Edi menegaskan, hukuman seharusnya tidak hanya berlaku bagi pelajar, tapi ketika guru kesiangan atau terlambat masuk, sama harus dihukum dan tidak ada pilih kasih.

“Hukuman disuruh mencuci WC dipastikan baju anak tersebut akan basah terus kotor kena najis dan bau. Setelah itu ia masuk kelas, maka anak tidak akan nyaman belajar karena kondisi setelah membersihkan WC baju menjadi bau, maka si anak dikahwatirkan menjadi minder,” tandasnya. (daz/*)

Comments

comments