Telanjur Nikah Dini, Tunda Kelahiran Anak Pertama

0
84

CIANJUR, patas.id – Kepala Seksi Pengendalian Penduduk Data dan Informasi Keluarga Bidang Pengendalian Penduduk dan Keluarga Bencana DPPKBP Kabupaten Cianjur, Endang Suryana, mengungkapkan, pihaknya tengah mengintensifkan program pendewasaan usia perkawinan (PUP) kepada remaja untuk mencegah pernikahan dini.

”Pernikahan itu perlu dikendalikan, karena berdampak banyak. Bisa kepada individu (pelaku pernikahan) atau bahkan dampak yang lebih besar, misalnya ledakan penduduk,” ujar dia kepada wartawan, belum lama ini.

Menurutnya, fenomena pernikahan dini yang biasanya terjadi di kawasan pelosok juga makin banyak terjadi di perkotaan. Daerah-daerah seperti Kecamatan Mande, Cikalongkulon, Ciranjang, dan Bojongpicung di perkotaan menjadi sejumlah kawasan yang rawan terjadinya pernikahan dini.

”Banyak terjadi pernikahan karena pergaulan remaja yang semakin bebas. Artinya, pernikahan terjadi karena dipaksa keadaan, otomatis banyak hal-hal yang akhirnya tidak diperhatikan terkait si remaja itu sendiri,” katanya.

Hal tersebut diakui menjadi tugas berat pihak BKBPP, karena fenomena pernikahan dini di pelosok yang marak terjadi pun belum bisa diatasi. Oleh karena itu, berkoordinasi dengan pihak terkait, sosialisasi dan pendekatan kepada masyarakat pun dilakukan secara ketat.

Program terkait antisipasi bertambahnya pernikahan dini semakin banyak disampaikan kepada anak usia sekolah. Setidaknya, kalangan remaja mendapatkan pemahaman lebih mengenai risiko pernikahan yang terlalu dini dilakukan.

”Kalaupun sudah terlanjur menikah, kami akan berikan sosialisasi Penundaan Anak Pertama (PAP) kepada pasangan muda yang belum ideal untuk melahirkan dan punya anak,” ucapnya.

Sementara itu, bagi pasangan muda yang terlanjur menikah dan sudah pernah memiliki anak pun dianjurkan untuk mengikuti program KB. Dengan begitu, tidak ada kata terlambat dalam upaya pengendalian pertumbuhan penduduk akibat pernikahan yang terlalu cepat.

Selain itu, pengendalian pertumbuhan penduduk pun dianggap harus didukung dengan ketahanan keluarga. BKBPP pun memfokuskan diri untuk mengedukasi keluarga menengah ke bawah yang cenderung memiliki anak banyak.

Menurutnya, minimnya pemahaman membina keluarga dikhawatirkan dapat menyebabkan pertumbuhan keluarga tidak terkontrol. Pasalnya, bertumbuhnya keluarga tidak dibarengi dengan kondisi yang tak berimbang untuk menjamin kelangsungan keluarga ke depannya.

”Program terus berjalan, meski saat ini terkendala jumlah petugas, penerimaan masyarakat, dan data spesifik untuk mendukung program,” ucapnya. (isl)

Comments

comments