Ada 26 Bangunan Bersejarah di Cianjur Masuk Cagar Budaya

0
260

CIANJUR, patas.id – Sebanyak 26 bangunan dan lokasi bersejarah di Cianjur rencananya bakal ditetapkan sebagai cagar budaya, di tahun ini. Pemerintah Kabupaten Cianjur pun didesak untuk bisa menjaga yang ditetapkan.

Ketua Tim Ahli Cagar Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat sekaligus arkeolog dari Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia Komda Jabar-Banten, Lutfi Yondri, mengatakan, 26 bangunan dan lokasi yang bakal ditetapkan oleh Gubernur Jawa Barat tersebut merupakan usulan sejak 2016. Setelah proses kajian, kemungkinan besar penetapan dilakukan di 2018.

“Sebenarnya sudah ada banyak yang diusulkan dari Cianjur, tapi baru selesai kajian di tahun ini, dilanjutkan dengan penetapan,” kata dia kepada wartawan, Jumat (2 Februari 2018).

Menurutnya, 26 calon cagar budaya itu merupakan hasil penelusuran dari tim kajian provinsi, mengingat Cianjur sempat menjadi Ibu Kota Priangan. Hal itu menjadikan Kota Santri memiliki banyak tempat bersejarah yang belum diusulkan sebagai cagar budaya.

Dia menjelaskan, dari 26 lokasi tersebut, di antaranya berada di lingkungan Pendopo Cianjur, yakni lonceng di halaman pendopo, gedung eks SMAN 2 Cianjur, Bank Perempuan, Rumah Sakit Paru-paru, Vihara Bumi Pharsija, Rumah Dr Toki (Bumi Ageung), dan lainnya.

“Pendopo pun itu termasuk dalam usulan cagar budaya. Dikhawatirkan terjadi kerusakan pada bangunnnya jika tidak segera diusulkan. Seperti halnya gedung eks SDN Ibu Jenab, sekarang pun sudah ada yang dibongkar, tapi kami amankan dengan pengusulan cagar budaya.”

Dia mengatakan, di samping 26 usulan pada 2016 itu, tim kajian juga mulai memproses pengkajian gedung eks SDN Ibu Jenab. Ditargetkan pendalaman selesai tahun ini dan bisa ditetapkan bersamaan dengan cagar budaya lainnya.

“Karena kondisinya darurat, dimana ada isu pembongkaran untuk lahan parkir, makanya kami percepat. Kalau ada pengrusakan itu sudah ditetapkan oleh aturan yang ada. Dalam proses usulannya pun sudah harus diperlihara. Kalaupun dibongkar, itu tujuannya untuk revitalisasi, tidak boleh alih fungsi begitu saja,” katanya.

Lutfi juga menambahkan, beberapa cagar budaya juga diperkirakan memiliki keterkaitan. Salah satunya sekolah perempuan yang didirikan Siti Jenab dengan keberadaan bank perempuan.

“Kemungkinan besar itu ada ikatan. Kesuksesan Siti Jenab mendirikan sekolah dan mencetak perempuan yang berilmu, membuat ekonomi perempuan juga terangkat, sehingga didirikan bank perempuan,” katanya.

Pemerintah Kabupaten Cianjur, lanjut dia, diharapkan bisa terus menjaga dan merawat cagar budaya yang ada setelah ditetapkan. Dia pun mendorong pemkab untuk secara mandiri mengusulkan bangunan bersejarah sebagai cagar budaya. Pasalnya, sejak ada otonomi daerah, pemkab memiliki tanggung jawab untuk mengusulkan hingga merawat cagar budaya.

“Kalau tidak mengusulkan, berarti pemkab lalai. Jika kondisinya begitu, kami yang akan turun langsung ke Cianjur. Cagar budaya ini penting untuk pengetahuan generasi ke depan,” katanya. (isl)

Comments

comments