Pedagang Mogok Jualan, Daging Ayam Hilang dari Pasaran

0
118

CIANJUR, patas.id – Pedagang daging ayam di Kabupaten Cianjur melakukan aksi mogok sebagai protes tingginya harga daging ayam di pasaran, Sabtu (13 Januari 2018). Akibatnya, daging ayam bakal hilang dari pasaran selama beberapa hari ke depan.

Berdasarkan pantauan di Pasar Induk Pasirhayam (PIP), sekitar 50 lapak pedagang kosong sejak subuh. Beberapa lapak di antaranya dimanfaatkan pedagang sayur dan pakaian.

Sama halnya dengan PIP, di Pasar Muka pedagang daging ayam juga tidak berjualan. Bahkan tidak hanya di dua pasar besar di Cianjur, pedagang si pasar lain pun juga menggelar mogok dagang untuk mendesak adanya penetapan dan penurunan harga.

“Alasan kami tidak berdagang karena daging ayam sudah terlalu mahal di pasaran. Pedagang jadi terbebani, mau jual dengan harga murah harus nombok, sementara kalau disesuaikan malah pembeli jadi berkurang,” ujar Agus Mauludin (43 tahun) salah seorang pedagang sekaligus petugas pengecekan daging ayam di PIP, Sabtu (13 januari 2018).

Menurutnya, aksi mogok itu juga disepakati semua pedagang, terlebih Asosiasi Pedagang Daging Domba Ayam dan Sapi (APDDAS) Kabupaten Cianjur telah mengeluarkan surat edaran nomor 005/APDDAS/KAB-CIANUR/I/2018 yang berisi hasil muyawarah pengurus, bandar, dan pedagang ayam pada 8 Januari 2018, tentang kenaikan harga ayam yang tidak wajar setelah Natal dan Tahun Baru.

APDDAS pun memberitahukan pada peternak ayam, broker, bandar, pemotong, suplyer, dan pedagang mulai Sabtu (13 Januari 2018) sampai Senin (15 Januari 2018) bakal digelar aksi mogok produksi dan berjualan daging ayam di Cianjur.

Semua pihak yang terkait, diimbau agar melaksanakan isi surat edaran tersebur, hingga permintaan penurunan harga bisa dikabulkan atau terealiasi. Bahkan, bagi yang tidak mengikuti edaran, bakal mendapatkan sanksi, berupa denda sebesar Rp 10 juta bagi pemotong dan Rp 1 juta untuk pengecer.

“Memang lebih baik mogok dagang dulu supaya bisa ada penekanan, sehingga harga daging bisa segera turun. Kalau dagang pun yang ada terus jadi beban, harus nombok. Ada juga yang sampai menguasai barang berharganya,” kata dia.

Menurutnya, harga ayam hidup dari tingkat broker sekarang sudah di angka Rp 22 ribu per kilogram, kabarnya bakal ada kenaikan lagi menjadi Rp 25 ribu per kilogram. Jika benar terjadi, ungkap dia, diperkirakan harga daging ayam ke depan bisa di angka Rp 41 ribu per kilogram.

“Sekarang harga dari broker Rp 22 ribu saja membuat harga daging ayam di pasar jadi Rp 38 ribu per kilogram. Jika naik lagi, harga daging bisa di atas Rp 40 ribu per kilogram,” kata dia.

Agus mengatakan, kenaikan harga saat ini dinilai sangat tidak wajar, pasalnya beberapa hari setelah hari raya atau momen besar, harga seharusnya sudah turun. Namun kali ini, bukannya turun, harga malah terus naik.

“Maksimalnya lima hari atau sepekan sudah turun. Ini sudah lebih dari 12 hari terus naik. Yang korban pedagang dan pembeli,” tuturnya.

Di sisi lain, hilangnya daging ayam di pasar karena pedagang mogok berjualan, membuat penjual makanan yang menggunakan bahan dasar daging ayam menjadi kesulitan berjualan.

Siti Fatimah (30 tahun) misalnya. Pedagang bubur ayam ini terpaksa tidak menggunakan bahan dasar ayam untuk buburnya. Meskipun begitu, dia mengaku tetap berjualan dan memilih mengganti ayam dengan tahu.

“Memang banyak yang nanya, kenapa bubur ayam tapi tidak pakai ayam. Tapi saya jelaskan kalau pedagang dagingnya mogok, jadi pembeli juga mengerti. Kalau inginnya segera jualan lagi, tapi dengan harga yang sudah murah,” kata dia.

Sementara itu, Putri Jayanti (25 tahun), warga Desa Leles Kecamatan Karangtengah mengaku sempat kebingungan mencari daging ayam. Dia sempat mencari daging ke sejumlah pasar, namun tidak ada yang jualan. Pasalnya dia tidak tahu jika para pedagang mogok.

“Tidak tahu kalau mogok, saya kira masih ada yang jualan. Memang harganya memberatkan pembeli. Semoga saja kalau pedagang mogok, harga bisa stabil lagi, minimalnya jadi Rp 30 ribu per kilogram,” tuturnya. (isl)

Comments

comments