SDN Ibu Jenab I, Sekolah Penuh Sejarah yang Diubah jadi Lahan Parkir

0
199

CIANJUR, patas.id – Berbagai kalangan di Cianjur, mempertanyakan rencana Pemkab Cianjur memindahkan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) SDN Ibu Jenab I dan mengalihfungsikan bekas gedungnya untuk lahan parkir.

Pengiat Budaya Cianjur, Eko Wiwid, mengatakan, lahan SDN Ibu Jenab yang akan dialihfungsikan menjadi lahan parkir tersebut, harus dipertimbangkan kembali karena lokasi tersebut masuk dalam zona cagar budaya Cianjur.

Dia menjelaskan, benda, bangunan dan tempat yang mempunyai nilai sejarah, sangat penting untuk dipertahankan dan tidak sampai dialihfungsikan agar generasi yang akan datang tidak kehilangan arah sejarah.

“Kalau generasi bangsa sudah tidak tahu sejarahnya, maka selanjutnya akan kehilangan jati diri dan bingung. Lokasi sekolah tersebut, tentunya memiliki kaitan sejarah karena berdekatan dengan lingkungan pemerintahan,” kata Eko kepada wartawan, Rabu (10 Januari 2017).

Dia menilai, sepanjang radius 3 sampai 5 kilometer dari pusat pemerintahan Cianjur, terdapat berbagai benda dan bangunan bersejarah masa silam seperti di Jalan Mangunsarkoro, Jalan Siliwangi dan Jalan Suroso.

“Kenapa lokasi sekolah tersebut harus dijadikan lahan parkir, kan masih banyak lahan yang luas seperti di alun-alun dan lokasi lain yang tidak menganggu cagar budaya. Saat ini di Cianjur, banyak cagar budaya yang sudah dialihfungsikan,” katanya.

Dia berharap dinas terkait dan Pemkab Cianjur, dapat bijaksana dalam melakukan pembangunan dan penataan, jangan sampai merusak tempat yang memiliki nilai sejarah.

Budayawan dan sejarawan Cianjur, Pepet Johar menyayangkan rencana pembongkaran SDN Ibu Jenab I tersebut. Pasalnya, meskipun sudah tak terdapat bangunan asli lantaran beberapa kali direnovasi, tempat tersebut memiliki nilai sejarah terkait pendidikan, khususnya kaum perempuan di Cianjur.

Namun, lanjut dia, rencana yang sudah berbentuk kebijakan akan sulit untuk ditahan, sebab sudah menjadi kehendak pimpinan daerah. Kecuali, dari DPRD Kabupaten Cianjur mau turut mendorong agar kawasan itu bisa tetap dijaga sebagai kawasan yang bernilai historis.

“Jangankan SDN Ibu Jenab, bangunan pendopo yang banyak mengandung historis saja dibabat. Kami menyayangkan, sebab di sana terdapat nilai sejarah pendidikan, dimana Siti Jenab menjadi pionir pendidikan bersama dua tokoh lainnya di Jawa Barat,” tuturnya.

Terpisah, Memet Hakim, cucu Siti Jenab mengaku kecewa dengan kebijakan alih fungsi kawasan, dari yang semula untuk pendidikan menjadi lahan parkir. Apalagi, sekolah tersebut merupakan salah satu sisa dari perjuangan Siti Jenab untuk dunia pendidikan. 

“Memang sudah tidak ada bentuk yang asli, soalnya kan dulu itu dari bilik bambu. Tapi setidaknya bisa tetap dijaga. Yang membuat kami (cucu Siti Jenab), sakit hati adalah pengalihfungsian menjadi lahan parkir,” tuturnya.

Dia mengatakan, jikapun pemerintah hendak memindahkan aktivitas belajar ke lokasi yang baru, kawasan yang sebelumnya tetap dijaga, tidak dibongkar begitu saja. Pasalnya, nilai sejarah tidak hanya berupa bangunan, namun nilai yang terkandung di dalamnya.

“Di tempat lain, dimana pejuang pendidikan dari kaum perempuan di Jawa Barat tetap terjaga, meskipun tidak asli lagi. Tapi tetap pada fungsi yang sama, yaitu sekolah. Minimalnya bisa dijadikan tempat yang benilai historis, bukan malah dijadikan tempat parkir,” ungkap dia.

Rencananya, tambah Memet, akan dilakukan pertemuan dengan Bupati Cianjur. Semua pihak akan mendorong agar dilakukan pembatalan alih fungsi menjadi kawasan parkir. “Nanti lebih lanjutnya di pembahasan bersama bupati, bagusnya bisa sampai dibatalkan,” kata dia.

Di sisi lain, Pengurus Komite SDN Ibu Jenab I, Suhendra, menuturkan, dalam hak angket yang disampaikan orangtua siswa di rapat pertemuan beberapa waktu terakhir, sebagian besar menolak adanya pemindahan. Namun yang lebih ditekankan ialah terkait persiapan dan penataan lokasi yang baru untuk SDN Ibu Jenab I.

“Kalau komite dan orangtua itu lebih fokus pada kondisi bangunan yang baru, di sana belum dipagar sementara dekat sungai. Berbahaya jika dipaksakan pindah secepatnya. Selain itu, tentunya ada nilai sejarah di gedung sekolah yang masih digunakan saat ini,” ungkap dia. (isl)

Comments

comments