Hati-hati, Ada Temuan 3 Kasus Difteri Tahun Ini

0
3

CIANJUR, patas.id –  Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur mencatat sudah tiga temuan difteri sepanjang 2017. Sosialisasi pun digencarkan agar warga menghindari penyebab difteri, terutama dengan mendorong untuk mau divaksin dan imunisasi rutin.

Kepala Seksi Surveilans dan Imunisasi Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur, Asep Helmiono, mengungkapkan, temuan terbaru untuk kasus difteri pada 15 November 2017 di Desa Cijedil Kecamatan Cugenang, dimana seorang anak usia SD positif difteri.

Dua kasus lainnya, menurut Asep, ditemukan di Desa Sukasari Kecamatan Cilaku pada Maret 2017 dan di Desa Sukamulya Kecamatan Cikadu awal September 2017.

“Untuk jumlah warga yang terjangkit, di Cikadu paling banyak, sampai ada beberapa orang yang positif, termasuk ada yang meninggal dunia. Karena sebelum meninggal dunia timbul gejala seperti orang terkena difteri, maka kami masukkan ke data kasus di tahun ini,” kata dia kepada wartawan, Kamis (7 Desember 2017).

Dia mengungkapkan, kasus difteri baru ditemukan lagi setelah dua tahun terakhir,  sebab di 2015 dan 2016 tidak ada kasus difteri di Tatar Santri. “Iya ini baru muncul lagi setelah dua tahun lalu tidak ada, dengan jumlah kasus yang mencapai tiga kasus selama setahun,” katanya.

Dia mengatakan, dalam penanganannya,  dinkes langsung turun tangan ke lokasi. Hal itu dilakukan untuk mendata dan menindaklanjuti mereka yang terkena difteri serta mengantisipasi penularan terhadap keluarga atau lingkungan di sekitarnya.

“Untuk yang di Cikadu itu langsung turun dari Kementerian Kesehatan, karena itu satu keluarga yang terjangkit. Dikhawatirkan meluas lagi. Sementara temuan yang lainnya langsung kami yang menangani dan sudah masa penyembuhan,” ungkap dia.

Di samping itu, lanjut dia, Dinkes Kabupaten Cianjur saat ini mulai menggencarkan lagi sosialisasi ke setiap daerah yang ditemukan kasus difteri. Tidak hanya itu, daerah yang imunisasinya masih rendah pun bakal didatangi.

“Seperti yang kami lakukan hari ini di Desa Cijedil, kami lakukan sosialisasi. Salah satunya untuk menggencarkan pola hidup bersih dan sehat. Selain itu, ketika ada yangterindikasi difteri, segera hindari kontak dan membawa ke layanan kesehatan untuk ditangani lebih lanjut. Mereka yang ada di sekitarnya juga dicek kesehatan untuk memastikan tidak tertular,” ungkapnya.

Menurut Asep, rata-rata yang masih ditemukan difteri adalah daerah yang warganya masih belum sadar untuk divaksin atau imunisasi secara lengkap. Namun, jika sudah lengkap, dipastikan hingga beberapa tahun ke depan, Cianjur akan terbebas dari difteri.

“Seperti halnya di Cijedil, warga di sana belum sepenuhnya sadar imunisasi. Bahkan saat program imunisasi, tidak sedikit yang menolak, lantaran menganggap sudah diimunisasi jadi panas atau demam, padahal itu gejala normal. Maka dari itu kami sadarkan warga agar imunisasi supaya terhindar dari difteri,” tuturnya. (isl)