Rumah Layak untuk Pasangan Kiki dan Titi

0
144

CIANJUR, patas.id – Pasangan suami-istri, Kiki Gunawan (62 tahun) dan Titi Suryaningsih (60) kini bisa tidur dengan nyenyak dan tinggal nyaman di rumah barunya yang layak huni. Sebab, rumah yang sebelumnya nyaris roboh di Gang Anggrek Kelurahan Sayang Kecamatan Cianjur Kabupaten Cianjur dibangun Polres Cianjur, Ngerayap Community, Bagong Mogok, dan para dermawan yang ikut menyumbang dan sudah diresmikan, Selasa (21 November 2017).

Kapolres Cianjur, AKBP Arif Budiman dan Ketua Ngerayap Community, H Aris Mulkan pun menghadiri dan meresmikan langsung rumah warga tidak mampu tersebut. 

“Bantuan ini murni diberikan untuk membantu saudara yang tidak mampu. Alhamdulillah bisa terealisasikan dengan segera. Semoga Kiki dan keluarga kini bisa nyaman di rumah barunya,” ujar Kapolres Cianjur, AKBP Arif Budiman di sela peresmian, Selasa (21 November 2017).

Dia juga mengajak warga yang mampu untuk ikut membantu setiap warga yang rumahnya tidak layak huni. Menurutnya, bantuan tersebut bakal menjadi bekal di akherat nanti.

“Kita semua pasti pulang kampung, sudah selayaknya banyak bekal menuju surga. Maka dari itu, semuanya harus sadar untuk saling membantu saudara kita yang membutuhkan,” ucapnya.

Sementara itu, Kiki Gunawan mengaku sangat senang dengan bantuan tersebut, sehingga tidak perlu lagi khawatir rumahnya roboh sewaktu-waktu. Terlebih saat hujan turun, rumah digenangi air.

“Alhamdulillah sekarang bisa tidur lebih aman dan nyaman. Terima kasih kepada semua pihak yang sudah membantu saya dan keluarga, semoga diberi rezeki yang lebih, kesehatan, dan kesuksesan,” ucapnya.

Sebelumnya, Kiki dan Titi harus tinggal di rumah gubuk yang sudah tak layak huni. Belum ada bantuan yang diterima mereka, padahal janji dan permintaan untuk pengajuan bantuan sudah sering datang tanpa realisasi.  

Keduanya sudah lama tinggal di rumah berukuran 5×3 meter di Gang Anggrek Kelurahan Bojongherang Kecamatan Cianjur. Bagian samping rumah tampak sudah roboh, sementara bangunan secara keseluruhan mulai miring. Di dalam rumah, langit-langit sudah tak berbentuk dengan lantai yang tidak rata. Mirisnya, ketika hujan turun, hanya bagian seluas 2×3 meter yang bisa dijadikan tempat berteduh dan tidur. 

“Kalau hujan kasur juga kehujanan. Malahan sewaktu saya sakit, sampai tetangga yang ngelapin,” ujar Titi saat ditemui di rumahnya, belum lama ini.

Titi mengungkapkan, dia sudah tinggal di rumah tersebut sejak 1973 bersama orangtuanya. Kemudian dia tinggal bersama sang suami pada 1982. 

“Sudah puluhan tahun ibu di sini, sekarang ya kondisinya begini, sudah tidak layak,” ucapnya.

Penghasilan suami yang hanya kuli bangunan tidak cukup untuk merenovasi rumah, meskipun untuk menambah penyangga. Untuk makan pun, kadang dia harus sangat berhemat ketika mendapat uang.  

“Penghasilan enggak tentu, kadang sehari kerja, seminggu tidak. Kalau seminggu kerja, sebulan enggak. Bisa makan saja sudah syukur,” ucapnya.

Menurutnya, sudah beberapa kali dia diusulkan untuk menerima bantuan rutilahu, namun tidak kunjung diterima. Bahkan karena kesal, proposal pun dibakar.

“Sudah bosan, diminta proposal, difotoin tapi tidak dapat bantuan. Buat proposal kan tidak murah, mending dipakai makan. Kalau memang pemerintah memperhatikan warganya, saya berharap benar-benar dibantu,” katanya. (isl)

Comments

comments