Jumlah Gay di Cianjur hingga 2017 Mencapai 1.700 Orang

0
161

CIANJUR, patas.id – Pemerintah Kabupaten Cianjur membeberkan bahwa saat ini data jumlah pelaku seks menyimpang, khususnya laki-laki seks laki-laki (LSL) mencapai 1.700 orang. Bahkan penyebarannya sudah di setiap kecamatan dan masuk ke lingkungan pendidikan.

Hal itu diungkapkan Wakil Bupati Cianjur, Herman Suherman, setelah menggelar evaluasi penanganan HIV/AIDS selama 2017 di Ruang Rapat Kantor Perumdam Tirta Mukti Kabupaten Cianjur, beberapa hari lalu.

Menurutnya, selama ini muncul data perkiraan jumlah LSL di Kota Santri mencapai lebih kurang 2.000 orang, ternyata dari data yang ada, benar saja jumlahnya hampir di angka 2.000 orang. 

“Jumlah itu baru yang terdata, belum yang menyembunyikan jati dirinya sehingga tak terdeteksi,” ucap Herman usai evaluasi bersama Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) dan sejumlah pihak yang mengurusi HIV/AIDS.

Menurutnya, dikhawatirkan jumlah LSL itu terus bertambah, mengingat penyebarannya juga sudah melalui lingkungan pendidikan. “Makanya perlu ada antisipasi, jangan sampai terus bertambah,” kata dia.

Herman menambahkan, dari 1.700 LSL di Cianjur tersebut, sebayak 10 persen sudah positif HIV/AIDS. Penyakit yang berbahaya tersebut dapat terus menyebar jika perilaku seks menyimpang di Cianjur tidak ditanggulangi. Untuk memeriksa jumlah penderita HIV dari kelompok LSL itu, pihaknya akan mendorong untuk melakukan tes.

“Sisanya didorong untuk dites, supaya terpantai bertambahnya berapa yang terjangkit HIV/AIDS ini,” kata dia.

Oleh karena itu, lanjut Herman, pada peringatan hari AIDS sedunia pada 1 Desember nanti, pihaknya akan menyosialisasikan bahaya HIV/AIDS dan perilaku seks menyimpang. 

Pemkab juga akan secara gebyar melibatkan semua elemen masyarakat, LSM, komunitas agar bahaya kedua hal tersebut bisa diminimalisir. Minimalnya, ungkap Herman, para orangtua mengetahui bahaya HIV dan LSL.

“Keluarga yang harus hati-hati karena hampir rata-rata keluarganya tidak tahu jika ada salah satu dari mereka yang Lsl atau terkena HIV/AIDS. Karena kalau keluarganya tahu, khawatir dikucilkan atau jadi aib. Padahal perlu dukungan, supaya penyebarannya bisa diantisipasi,” katanya. (isl)

Comments

comments