Napak Tilas Perang Konvoi di Ciranjang

0
17

CIANJUR, patas.id – Cianjur ternyata menyimpan banyak sejarah perjuangan merebut kemerdekaan yang heroik. Bahkan aksi dari para pejuang itu membuat tentara elite sekutu kocar-kacir dan membuat kekuatan pejuang semakin diperhitungkan. 
Peristiwa itu bernama Perang Konvoi yang menjadi ulasan dalam agenda napak tilas dan diskusi sejarah “Perang Konvoi Tjianjoer-Tjirandjang 1945-1946: Dalam Perpektif Sejarah”, Sabtu (11 November 2017).

Untuk diketahui, Perang Konvoi itu berlangsung di front Jawa Barat, beberapa bulan setelah proklamasi. Seharusnya waktu itu menjadi saat dimana Allied Forces Netherland East Indies (AFNEI) yang dipimpin Letnan Jendral Sir Philip Christison (Inggris) untuk memulangkan tawanan dan melucuti balatentara perang, tetapi malah berujung sebagai medan perang bagi sekutu.

Perang itu terjadi di sepanjang jalan antaran Bogor-Sukabumi-Cianjur-Bandung dan berlangsung dalam dua periode. Pertama terjadi pada 9-12 Desember 1945 yang berpusat di Bojongkokosan. Keduanya terjadi pada 10-14 Maret 1946, dimana tiga batalyon pasukan Inggris dikepung di Sukabumi dan Cianjur.

Aksi pejuang, tentara, dan laskar pun menjadi mimpi buruk bagi tentara Inggris. Bahkan tentara Gurkha dari Nepal dan Batalyon Jast serta Patiala dari India yang sudah sangat terkenal sebagai mesin perang yang menakutkan, dibuat tidak berdaya menghadapi gempuran pejuang Republik.

Perang Konvoi pun menjadi catatan prestasi penting bagi TRI, khususnya Resimen Sukabumi bersama barisan Hizbullah, Sabilillah, Persindo, Banteng, Pemuda Proletar, Kris, PRD, Laskar Merah, dan laskar lainnya.

Di Cianjur sendiri, Perang Konvoi tersebut berpusat di Jembatan Cisokan lama yang kini sudah tidak digunakan. ‎Jembatan itupun menjadi saksi bisu kehebatan para pejuang, termasuk di Cianjur. Meskipun tak banyak catatan sejarah yang menuliskan aksi heroik yang tidak kalah hebat dengan aksi di tempat lainnya di Indonesia.

Hal itu ternyata menarik banyak peminat, baik dari pecinta sejarah, guru sejarah, remaja, hingga pelajar di Cianjur. Mereka turut serta dalam kegiatan napak tilas yang digelar oleh Historika atas dukungan Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

“Hari ini kami laksanakan kegiatan napak tilas yang juga memperingati Hari Pahlawan pada 10 November. Alhamdulillah peminatnya cukup banyak, ada puluhan peserta dari berbagai kalangan,” ujar Ketua Penyelenggara, Abdul Basith, di sela kegiatan.

Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi proses untuk mengungkap sejarah perjuangan menuju kemerdekaan. Apalagi berdasarkan beberapa literasi sejarah menyebutkan Perang Konvoi merepotkan pasukan Sekutu dan Belanda.

“Pengungkapan ini juga dilakukan atas dasar usulan dari salah seorang penulis dan jurnalis sejarah asal Cianjur, Hendi Jo. Dan memang aksi heorik ini menjadi catatan prestasi yang luar biasa. Bahkan menjadi kunci dari aksi-aksi lainnya dalam merebut serta mempertahankan kemerdekaan,” ucapnya.

Dia pun mengharapkan, dari kegiatan napak tilas tersebut ada tindak lanjut khususnya dari para guru sejarah di Cianjur. “Sekarang ini bagaimana cara mengajarkan sejarah lokal, sebab sejarah di setiap daerah pun memiliki nilai yang luar biasa,” ungkapnya. (isl)