Terdakwa Kasus Saracen 3 Kali Protes Selama Sidang

0
110

​CIANJUR, patas.id – Terdakwa ujaran kebencian, Sri Rahayu Ningsih, protes kepada saksi ahli yang menyimpulkan bahwa dirinya berujar kebencian selama satu tahun. Pernyataan tersebut ia lontarkan saat diberi waktu oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Cianjur saat sidang yang menghadirkan dua orang saksi ahli dalam kasus ujaran kebencian yang digelar di Pengadilan Negeri Cianjur, Jalan Dr Muwardi, Senin (6 November 2017).

“Saya keberatan dengan pernyataan saksi ahli yang menyebut saya berujar kebencian selama satu tahun di media sosial,” kata Sri.

Sidang kali ini menghadirkan saksi ahli pertama Herman Fransiskus dari Digital Forensik Mabes Polri Jakarta. Herman mengatakan bahwa ia menemukan tiga akun facebook di perangkat keras telepon selular milik Sri Rahayu Ningsih. Herman juga menemukan beberapa gambar dalam sim card telepon tersebut yang ada kaitannya dengan beberapa ujaran kebencian.

“Ada tiga akun facebook di telepon selular milik Sri. Akun tersebut isinya berbeda-beda dan menampilkan beberapa gambar yang dibackup dalam sim card,” kata Herman.

Herman meyakinkan bahwa akun facebook dalam telepon tersebut milik Sri dilihat dari nomor IMEI telepon tersebut. Setelah mendengarkan penuturan dari saksi pertama, Sri sempat memprotes beberapa poin yang dilontarkan oleh saksi ahli pertama.

Hakim Ketua, Rudi Suparmono, lalu menghadirkan saksi kedua dari ahli linguistik atau ahli bahasa, Asisda Wahyu. Wahyu mengatakan bahwa terdapat dua postingan Sri yang mengandung unsur SARA yang sensitif ditulis di media sosial dan dilihat oleh khalayak ramai. Ia pun mengatakan bahwa dua postingan tersebut mengandung unsur kebencian.

“Penyidik menyodorkan beberapa postingan kepada saya, saya menilai beberapa di antaranya mengandung unsur kebencian,” kata Wahyu. 

Kuasa hukum terdakwa, Yudi Junadi, sempat mempertanyakan metode yang digunakan oleh saksi ahli ketika mengkaji postingan-postingan dalam akun media sosial Sri. Saksi ahli menjawab bahwa ia mengkaji berdasarkan dari kaidah normatif bahasa. Lalu mendapat jawaban seperti itu Yudi langsung menyodorkan fotokopi buku yang diterbitkan oleh Komnas HAM tentang ujaran kebencian.

“Saya hanya ingin bertanya apa bedanya ujaran kebencian dengan ujaran biasa, lalu apa yang menjadi metode saksi ahli untuk mengkaji sehingga kalimat tersebut masuk ke dalam ujaran kebencian,” kata Yudi.

Mendapat pertanyaan tersebut saksi ahli kembali menjawab bahwa ia menilai ada dua postingan yang masuk ke dalam unsur ujaran kebencian.

Selesai para saksi ahli menjawab semua pertanyaan dari majelis, terdakwa kembali protes di akhir sidang. Sri kembali menyebut ia keberatan dengan beberapa pernyataan saksi ahli. Sidang yang berjalan selama tiga jam akhirnya diakhiri setelah dua saksi ahli tak hadir.

Ketua Majelis Hakim, Rudi Suparmono mengatakan, sidang akan kembali digelar pada Rabu (15/11) mendatang dengan agenda menghadirkan dua saksi ahli. (daz)

Comments

comments