Wakil Bupati Anggap Cianjur Sudah Darurat Miras

0
183

CIANJUR, patas.id – Pemerintah Kabupaten Cianjur bersama unsur muspida lainnya bakal memberantas peredaran minuman keras (miras) khususnya oplosan. Hal itu dilakukan untuk menyelamatkan generasi muda Cianjur dari pengaruh miras.

Wakil Bupati Cianjur, Herman Suherman, mengaku miris dengan munculnya kembali kasus penyalahgunaan miras sampai mengakibatkan korban meninggal dunia. Apalagi, mereka yang meninggal dunia itu rata-rata masih berusia muda, bahkan ada yang masih duduk di bangku SMA/SMK.

“Tentu prihatin dengan peredaran miras di Cianjur, apalagi sampai ada yang meninggal dunia beberapa hari lalu, gara-gara miras oplosan,” ucap dia saat dihubungi melalui telepon seluler, Kamis (26 Oktober 2017).

Bahkan, Herman menilai Cianjur ini sudah darurat miras. “Kalau kondisinya sudah seperti ini, bisa dibilang darurat miras,” katanya.

Menurutnya, Pemkab Cianjur sudah berkoordinasi dengan unsur Muspida, mulai dari Polres Cianjur, Kodim 0608 Cianjur, Kejaksaan Negeri Cianjur, dan yang lainnya. Terlebih, Cianjur sudah memiliki Peraturan Daerah (Perda) Nomor 12 Tahun 2013 tentang Nol Persen Alkohol.

“Pokoknya itu (pemberantasan miras) jadi agenda saya berikut. Dalam waktu dekat akan diberantas hingga tidak ada lagi miras di Kota Santri,” ucapnya.

Herman menambahkan, pihaknya akan lebih gencar melakukan sosialisasi ke setiap sekolah untuk mengantisipasi penyalahgunaan miras di tingkat pelajar. “Kalau biasanya pembinaan ke sekolah membahas LGBT, narkoba, dan geng motor, maka selanjutnya miras pun jadi bahan bahasan,” tururnya.

Di sisi lain, Wakil Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Cianjur, Lidya Indayani Umar, menuturkan, peran serta orangtua untuk mengantisipasi penyalahgunaan miras di kalangan anak-anak dan pelajar harus ditingkatkan.

Dia menuturkan, anak-anak biasanya mengkonsumsi miras lantaran rasa penasaran dan mengikuti temannya. Oleh karena itu, komunikasi dan pengawasan orangtua akan menekan rasa penasaran terhadap hal negatif.

“Mereka menganggap ketika menenggak miras jadi tren dan dianggap laki-laki bebas, padahal bahayanya begitu tinggi. Dengan begitu, orangtua mesti lebih mendidik anaknya, di samping di sekolah,” ucapnya.

Diberitakan sebelumnya, dua remaja asal Desa Haurwangi Kecamatan Haurwangi tewas setelah menenggak minuman keras oplosan, Rabu (25 Oktober 2017). Selain itu, ada empat pemuda lainnya yang mengalami reaksi miras tersebut, satu di antaranya di‎rawat intensif di RSUD Cianjur. (isl)

Comments

comments