Transportasi Online Masuk Cianjur, Organda: Bina Dulu yang Konvensional

0
146

CIANJUR, patas.id – Transportasi online mulai masuk dan berkembang di Cianjur, bahkan belakangan diketahui Grabb juga sudah membuka layanan di Kota Santri ini. Namun sebagian pihak mengkhawatirkan ada gejolak antara angkutan online dan konvensional jika tak segera melakukan komunikasi dan langkah antisipasi.

Penggiat IT dan Ketua Relawan TIK Kabupaten Cianjur, Mario Devys, mengatakan, seiring berkembangnya teknologi, transportasi online pasti akan masuk, termasuk ke Cianjur. Siap tidak siap, ungkap dia semua pihak pun harus terbuka akan kemajuan tersebut.

“Tidak mungkin bisa ditahan, sebab itu sudah jadi kebutuhan. Apalagi sekarang penggunaan internet sudah tinggi, hampir setiap orang melek dengan internet,” kata dia.

Namun menurutnya, banyak yang harus diperhatikan dengan adanya perkembangan teknologi tersebut, baik oleh penyedia layanan angkutan online maupun pemerintah sebagai pemegang kebijakan dan regulasi. 

Mario mengatakan, selama ini pihak penyedia layanan angkutan online belum memberikan jaminan keamanan yang jelas kepada pengguna. Selain itu, jika terjadi crash di server pusa transportasi online yang mengakibatkan rusaknya sistem pelanggan, penyedia layanan harus bisa mengantisipasi adanya kekacauan di tingkat konsumen.

“Jika memang ingin berkembang di setiap daerah, harus ada kepastian jangkauan trayek terhadap masyarakat, karena kebiasaan angkutan online berkumpul di lokasi yang ramai, sementara melihat kondisi Cianjur, banyak wilayah di luar pusat kota,” kata dia.

Pemerintah, lanjut Mario, harus terbuka namun dengan tegas membuast regulasi yang membuat pelayanannya bisa tertata. Terlebih untuk mengantisipasi adanya gejolak antara angkutan online dengan konvensional.

“Yang paling harus diperhatikan itu memang di regulasi, jangan sampai ketika sekarang datang angkutan online ke Cianjur, jadi timbul gejolak seperti di kota-kota lain,” kata dia.

Di sisi lain, Ketua Organisasi Gabungan Angkutan Daerah (Organda) Kabupaten Cianjur, Dede Supyanudin, mengatakan, secara organisasi, pihaknya meminta Pemerintah menolak keberadaan angkutan online, seperti Grabb. Pasalnya kondisi angkutan yang ada saat ini masih compang-camping.

“Kalau melihat sekarang, beradaan angkutan online malah menimbulkan masalah sosial. Meskipun sebenarnya keberadaannya sulit dibendung, mengingat salah satu dari kemajuan teknologi,” ucapnya.

Dia mengungkapkan, sekitar 4.000 angkutan di Cianjur masih belum nyaman dan aman, hal itupun diakibatkan pembinaan dari pemerintah terhadap angkutan sangat minim. Makanya, jika pemerintah membiarkan, bakal banyak sopir angkutan yang kehilangan mata pencahariannya, padahal ada keluarga yang dinafkahi dari profesi tersebut,

Jika pemerintah sudah membina namun pengusaha yang tidak mau mengikuti atau tak berinovasi, maka itu kesalahan masing-masing dan menjadi persaingan di lapangan tanpa perlu dibendung lagi.

“Bina dulu, kalau memang tidak mau nurut itu kesalahan masing-masing. Tpai kan sekarang pembinaan tidak ada, makanya kami minta bendung dulu, supaya tak jadi konflik nantinya. Apalagi belum ada regulasi yang jelas terkait tranportasi online,” ucap dia. (isl)

Comments

comments