Setiap Tahun, Jumlah Buruh Tani Menurun 10-15 Persen

0
228
Sejumlah buruh tani wanita menanam padi di lahan sawah desa Tegalsembadra, Balongan, Indramayu, Jawa Barat, Minggu (23/2). Buruh tani wanita yang bekerja mulai dari menanam padi, mencabut gulma hingga panen per orang diberi upah sebesar Rp. 30 ribu hingga 50 ribu per hari dengan jam kerja mulai dari jam 07.30 hingga 15.00. ANTARA FOTO/Dedhez Anggara/ss/ama/14.

CIANJUR, patas.id – Dinas Pertanian Perkebunan Pangan dan Hortikultura Kabupaten Cianjur mengungkapkan bahwa setiap tahun, jumlah burun tani menurun 10 sampai 15 persen. Hal itu diperparah dengan sulitnya mencetak generasi petani.

Kepala Dinas Pertanian Perkebunan Pangan dan Hortikultura Kabupaten Cianjur, Mamad Nano, mengatakan, di Cianjur terdapat 17 ribu kelompok tani dengan rata-rata per kelompok terdiri dari 50 orang. Dari jumlah tersebut 40 persennya merupakan buruh tani, 30 persen petani penggarap, dan 30 persen lainnya pemilik lahan.

“Sebenarnya di Cianjur itu sedikit pemilik lahannya, kebanyakan penggarap dan buruh,” papar Mamad saat ditemui di kantornya, Senin (25 September 2017).

Dari jumlah tersebut, diperkirakan ada penurunan jumlah buruh tani setiap tahunnya, sehingga petani sulit untuk melakukan panen. Bahkan penurunan itu sampai 10 persen hingga 15 persen per tahun, dan kemungkinan 10 tahun mendatang jumlahnya akan habis atau minimalnya sangat terbatas.

“Lihat saja di lapangan, sekarang cari buruh untuk panen itu susah. Masih ada, tapi susah carinya.” 

Dia mengatakan krisis pertanian itu diperburuk dengan generasi petani yang kurang, sebab para remaja menilai menjadi petani tidak memiliki potensi untuk memberikan kesejahteraan. Meskipun kenyataannya jika dikelola dengan benar, pertanian menjadi lahan yang terbaik untuk menggenjot ekonomi.

“Sangat sulit mencari generasi petani, anak muda memilih untuk menjadi buruh pabrik atau pekerjaan lain. Belum lagi pola pikir menjadi petani itu kotor, padahal tidak juga kalau dikembangkan dengan teknologinya, produksi pun bisa melimpah.” 

Oleh karena itu, lanjut Mamad, pihaknya tengah menggenjot petani muda dengan mengerahkan pada penyuluh pertanian. Seorang penyuluh ditugaskan untuk membina lima orang petani taruna. “Diharapkan mereka menjadi pelopor pertanian, apalagi momentum sekarang Hari Tani Nasional, Cianjur harus bisa menggenjot pertanian dan mempertahankan generasi petaninya,” ucap dia. (isl)

Comments

comments